Rabu, 09 Desember 2015

cerpen nak Ar-Rasyid



Everything Has Changed

 By Evha Nurhasanah

‘Cauze, All I knw is we said hello, and your eyes look like cooming home, oh I know is a simple name yeah, Everything Has Changed. All I know is you held the door, and you’ll be mind and I’ll be yours, oh I know since yesterday yeah, Everything Has Changed’
            Lagu  yang mengingatkanku pada satu kenangan yang tak akan kulupakan semur hidupku. Semua hal seakan terengat kembali dalam buaian rindu yang menceekam.Tawa, bahagia, tangis, dan lontaran ejekan seakanmenderu di otakku.Mungkin tak semua pilihan sesuai dengan harapan.Ini merupakan pilihan yang harus aku pikul.Penyesalan memang selalu berada di akhir. Tapi, mau apa lagi? Semuanya telah berubah, seperti sepenggal lagu yang begitu yang teruntai bak alken kenangan.Everything Has Changed.
                        *
    Kelas Empat. Itulah awal aku merasakan  yang namanya bolos hingga keluar area sekolah. Hari itu adalah hari paling menyebalkan.Yah, Pelajaran PAI selalu membuatku merasa bosan dan kantuk.Begitu juga dengan temanku yang lainnya.Gurunya pun mengajar bak mendongeng sebelum tidur.Lima belas menit telah berlalu, membuat rasa kantuk ini semakin menjadi-jadi.Sesaat aku meraskan tepukan di pundakku.Aku menoleh, dan melihat secarik kertas dari Yudistirana, temanku yang duduk di belakangku. ‘hari ini adalah hari yang paling membosankan, bolos yuk !!’ itulah kalimat yang disampaikan dari temanku itu. Aku pun menjawabnya ‘Coba ajak teman yang lainnya’. ‘Aku sudah tanya teman yang lain, ayolah kita coba bolos keluar area sekolah’ tulisnya lagi. ‘Bolos keluar area sekolah??? Gak salah nih ??’ tulisku dengan terperanga. ‘Iyalah, gak bosan bolos di area sekolah mulu?Ayolah, kita izin ke wc selepas itu kita tunggu teman-teman yang lainnya di gerbang belakang sekolah’.Bolos, merupakan rutinitas yang sering kulakukan bersama teman-temanku apabila kami malas ataupun pelajaran hari itu membosankan.Tetapi kalau masalah bolos sampai keluar area sekolah??Mungkin temanku sudah tidak waras hari ini (mungkin guru PAI ku mendongeng sampai tingkat dewa hehe). Setelah berpikir sesaat, aku pun izin ke wc dengan Tira.
“kamu tau, kayaknya rencana kita berjalan sempurna karena guru-guru meeting mendadak dengan pimpinan mangkura” kata Farhan, ketua kelasku sekaligus cowok paling nakal, cakep, dan pintar di kelasku. Yah, sangatlah beruntung, karena hari ini guru-guru sedang melaksanakan meeting mendadak bersama para pimpinan mangkura, jadi saya dan teman-teman tak perlu merasa takut untuk melaksanakan rutinitas ini.
“Mau kemana kita?”tanyaku.
“ayo kita jalan-jalan ke Pantai Losari, masalah pete-pete nanti aku yang tanggung” kata Sasmitha. Pete-pete adalah angkutan favorite semua orang teruitama para pelajar.
“Naik Taxi kek, yang lebih elite dong !!” sanggah Indah.
“Kalau kamu mau sewa bayar 10 taxi, gak masalah kok” Kata Mitha tak kalah.
“Naik pete-pete aja soalnya kita ini banyak, pete-petekan lebih irit uang juga” kata Ari.Setelah sepakat, kita pun naik pete-pete. Cukup susah untuk cari pete-pete yang kosong karena kita tak ingin berpisah. Kira-kira perjalanan hanyalah sepuluh menit, karena Pantai Losari sangat dekat dengan sekolahku terlebih jalanan juga sedang tidak macet.
            Hembusan angin yang sangat sejuk ini menerpa diriku.Ini adalah pengalaman yang mungkin tidak bisa aku lupakan dalam hidupku, kataku dalam hati.Tepukan Azizah membuatku terbangun dari lamunanku.
“Guys, Take a picture yukss” kata Qanita dengan lebaynya. Setelah foto 1000 gaya di 1000 sudut, Fadel pun mengajak kami memancing. Biaya pancingannya cukup murah, hanya duaribu per pancing beserta udang-udang kecil.Karena kami 10 orang sedangkan pancingannya hanya enam jadi terpaksa aku, Tira Farhan, dan Ari menunggu giliran untuk memancing. Tapi kami tidak marah, justru kami mencari aktivitas lain yaitu foto-foto juga sewa scooter. Tak terasa waktu telah menunjukan pukul empat sore. Seketika, aku dan teman-teman bingung karena tidak tau mau pulang naik apa. Kembali kesekolah, rasanya tak mungkin karena mungkin angkutan antar jemput sudah berangkat sedari tadi. Ingin minta orang tua yang jemput, rasanya lebih tak mungkin lagi takut di marahi oleh orang tua. “Kita pulangnya jalan kaki aja yuk !” kata Farhan. Kayaknya temanku yang satu ini sudah gila deh.Setelah lelah menunggu nasib, kita semua pun memutuskan untuk naik pete-pete aja, meskipun sebagian temanku takut dimarahi orang tua, tapi itulah konsekuensi yang harus di terima. Untung saja rumahku didalam kompkleks, jadinya orang tuaku tak akan bisa melihatku. Tapi masalahnya, rumahku cukup jauh.Karena takut aku pun minta dijemput oleh Agung, kakak sepupuku.Karena takut Agung melapor dengan orang tuaku, terpaksa aku harus mentraktirnya makan es krim di Macdonalds.Huft, sepuluh ribu telah melayang, tapi tak apalah demi menjaga perbuatanku ini.
“Dari mana, kok baru pulang?” tanya mamaku sesampainya aku di rumah.
“Dari Pantai Losari same teman-teman” kataku.
            Capek tapi senang.Langsung saja aku rindu dengan temantemanku.Kulihat kembali foto-fotoku bersama mereka.Tak terasa aku pun terlelap dan bermimpi tentang kejadian yang telah aku alami tadi.Keesokan harinya, nyaris saja aku terlambat.Untung saja Om Tiro, supir antar jemput sekolahku sabar menungguku.Dengan santainya aku berjalan menuju kelas.Tak sabar rasanya aku ingin memamerkan foto-fotoku kemarin dengan tman-teman yang tak sempat pergi.Tapi, tak sampai niatku itu terwujud aku pun melihat beberapa muka temanku yang masam.
“Ada apa nih, tumben gak ceria?” tanyaku pada Azizah.
“kita semua dipanggil ke ruang kepala sekolah, kita semua takut!” Kata Azizah yang sedikit lagi mitikkan air matanya.Setelah mendengar Azizah berkata, aku merasa Down.Bagaimana tidak, bolos sampai keluar area sekolah bukanlah perkara yang gampang.
Sudahlah Azizah, kan kita sudah pernah di panggil ke ruang kepala sekolah, amasa takut sih” kata Farhan menenangkan.
“ Tapi, kita ini sudah bolos sampai keluar area sekolah, akau takut Far nanti orang tua kita dipanggil kesekolah” Kata Azizah yang sudah tak dapat menahan air matanya.
“Tenang kok, ada Evha, dia kan cucunya kepala sekolah, aku rasa mungkin dia bisa membujuk bu kepsek” kata Ari lagi.
“Tapi Ri, aku rasa ini bukanlah hal yang gampang, bolos sampai keluar area sekolah pada saat mata pelajaran bukanlah perkara yang gampang” kataku putus asa.
            Lonceng sudah berbunyi.Saatnya kami menuju ke ruang kepala sekolah.Sesampainya didepan pintu ruang kepala sekolah, taka da yang ingin masuk duluan.Kami semua takut.Tapi, semakin lama kami berdiri di sini maka mungkin kepala sekolah aka semakin marah karena kami telah melanggar waktu yang ditentukan olehnya.Karena semua teman menunjukku untuk masuk duluan, akhiranya pasrah sajalah aku. Kami semua di suruh berdiri di depan meja sang kepala sekolah.
“Kemarin, dari mana kalian semua?” Kata Kepsek.
“Kami dari Pantai Losari bu” kata Farhan.
“kenapa kalian kesana, bukannya itu adalah hal yang melanggar aturan sekolah, pada saat mata pelajaran lagi!” kata bu kepsek meluncak.
“karena, guru-guru juga sedang meeting bu dan kami juga bosan kami memutuskan untuk pergi bu” kata Farhan lagi.
“Kalian ini betul-btul, kalian tau sudah dari dulu kalian memang selalu bolos, entah hukuman apalagi yang bisa ibu berikan agar kalian tidak bolos lagi.Mungkin dengan memanggil orang tua kalian dan juga memberi kalian surat peringatan kalian akan sadar dan tidak akan mengulangi prbuatan kalian lagi” ancam kepsek.
“Jangan Ummi, tak kasihan kah anda melihatku dimarahi oleh mamiku, ku rasa engkau adalah keluarga yang bisa mengerti aku ummi” kataku memohon
“Tapi perbuatanmu sudah kelewatan nak, aku tidak ingin kalian akan begini terus, bisa-bisa mangkura V akan mendapat teguran dari pimpinan”
“Tapi Ummi, kemarin kami bolos juga pada saat pelajaran sedang tidak berlangsung Ummi, Kami mohon Ummi, jangan panggil orang tua kami” kataku menangis.Tak terasa aku teringat dengan orang tuaku di rumah.
“Tapi, apakah ada peraturan yang mengatakan apabila mata pelajaran kosong boleh bolos, begitu? Apakah kalian tidak berpikir kalau sangat besar konsekuensi yang saya tanggung kalau terjadi apa-apa sama kalian” kata kepsek marah.
“Kami semua minta maaf bu” kata Farhan memelas.
“Dari dulu kalian selalu bermasalah, meskipun hukuman selalu saya berikan kalian masih tetap saja tak jera. Apa yang kalian minta, hah?”.Kami semua tak dapat berkutik lagi.Memang perbuatan kami ini sangatlah kelewat batas.Bayangkan saja, taka da seorang siswa pun yang pernah melakukan hal seperti ini.
“Silahkan tulis nomor telepon orang tua kalian disini”kata bu kepsek menyerahkan kertas kosong dan sebuah pulpen.
“Bu, kami mohon bu tolong bu tolong sekali jangan panggil orang tua kami.” Kata Azizah terisak dengan kerasnya.
“Maaf, ibu sudah tidak bisa menangani kalian ini, biarlah Pak Romi yang menangani kalian” kata bu kepsek menyerah.Kemudian bu kepsek mengambil telepon genggamnya dan menelpon Pak Romi.Akhirnya ada sedikit kelegaan di hatiku dan di hati teman-temanku, tapi meskipun demikian tetap saja kami dihadapkan dengan guru paling killer dan kejam di sekolah.Sesaat Pak Romi pun datang dan mulai berdiskusi dengan Bu kepsek.
Setelah berpikir sejenak dan memilah-milah mana hukuman yang cocok untuk kami, kepsek  dan Pak Romi pun memutuskan untuk menjemur kami sampai jam sepuluh. Awalnya kami di jemur hanya sepuluh orang rupanya sebelas orang temanku juga menyusul untuk di jemur sampai jam sepuluh juga, hanya empat belas orang yang tidak memperdulikan kami same sekali.Tapi, jangan salah dulu, ini bukanlah akhir dari rutinitas kami.Rutinitas kami tersebut berlanjut sampai aku kelas V, karena kelas V adalah waktu terakhir aku bersekolah di SD Mangkura khususnya Mangkura V.Ini merupakan pengalaman yang tidak bisa aku lupakan. Pengalaman yang sampai sekarang tak ada yang bisa menggantikannya sebagai pengalaman terhebat. Aku merasa seperti orang yang paling hebat dan beruntung.Punya dua puluh satu sahabat yang sangat menyayangiku.Tapi, entahlah sampai kapan aku bisa merasakan kehangatan dan kebahagiaan seperti ini.
*
            Hidup memang tak selamanya indah.Kadang sedih kadang tawa.Semuanya beradu dalam lika-liku kehidupan ini.Tak semua kenangan dapat terulang kembali.Pepatah mengatakan kalau semakin indah kenangan yang kita punya maka semakin sulit untuk dapat terulang. Tapi, meskipun kenangan ini tak dapat terulang, aku yakin bahwa masih ada peristiwa yang lebih indah dan akan menjadi kenangan yang lebih indah daripada apapun.
           

Sabtu, 29 November 2014

Libur yang Menyenangkan
oleh: Muh. Fakhri Rsyidi
 
       Dikala sore semakin lama semakin menghilang, menyisakan berkas-berkas oranye dilangit senja itu. Matahari yang semula lingkaran kini sudah hampir menghilang. Lampu-lampu jalan sudah semakin terang kelihatan dan juga kendaraan yang semakin lama semakin banyak. Reno sudah lama di depan TV hanya menonton acara TV yang tidak jelas dari sudah sholat asar tadi hingga menjelang sholat magrib kini. Sekarang dia hanya dapat makan, tidur, menonton, dan hanya ditemani handphone dan PSPnya yaitu benda terakhir punyanya yang dapat dipakai main game dan akses internet setelah laptopnya disita siang tadi sama ibunya,   Padahal dia sudah menunggu saat-saat libur ini agar dapat main laptop sepuasnya setelah libur terakhir tidak bisa gara-gara laptop tersebut rusak dan kembali setelah tiga hari setelah berada diasrama.
       Sudah seminggu Reno libur hingga kejadian tersebut terjadi. Sebenarnya tidak ada masalah dengan laptop, masalahnya itu di “Reno”nya karena dia keseringan kecanduan dengan laptopnya sampai-sampai selalu mengunci diri di kamarnya, kalaupun dia keluar palingan dia hanya keluar untuk makan, minum ataupun ke kamar kecil. Tapi karena keseringan sehingga ibunya marah dan akhirnya menyita laptop tersebut (kata menyita memang mungkin lebih bagus digunakan). Dan juga hingga setelah itu Reno pun tidak diperbolehkan untuk mengunci pintu kamarnya.
       Sehari kemudian, disaat ibu Reno pergi bekerja, Reno kemudian masuk kedalam kamar ibu dan mencari laptopnya dilemari ibunya, dilaci meja, dan disegala tempat dikamar tersebut, ternyata sia-sia saja. Lalu kemudian ke kamar kakek dan neneknya, tapi sebelum itu dia menunggu dulu hingga kamar tersebut kosong tanpa ada seorang pun didalamnya, kemudian diapun masuk dan memeriksa dulu lemarinya dan disana tenyata laptopnya. Setelahnya dia cepat-cepat keluar dan membawa laptopnya kekamarnya dan menyembunyikannya tepat di bawah kasurnya. 
       Hari ini Reno merasa tampak biasa-biasa saja sejak pagi tadi dan juga pastinya tidak menyalakan laptop karena ibunya masih ada di rumah meskipun sudah dipaksa sama adiknya. Reno sudah tahu bagaimana harusnya dirumah dan diwaktu mana ada kesempatan untuk menyalakannya. Karena jika tidak pasti laptopnya diambil lagi. Jadi Reno pagi ini bangun lalu sholat subuh, sarapan, bersepeda dengan adik berkeliling kota, kembali ke rumah, mandi, nonton, selepas semua itu tidur. Reno pun bangun dan melihat jam menunjukkan sudah pukul 1:30. Lalu diapun segera berwudhu untuk melaksanakan sholat zuhur. Selepas sholat diapun mencari adiknya lalu bertanya:
“dik, ibu sudah berangkat ya.”
“Iya, emangnya kenapa? Pasti mau main lagi kan.”
“Iya. Tapi Ibu pergi kemana sih?.”
“katanya ibu pergi ke kota sebelah, katanya ada urusan yang sangat penting.”
“berarti lama dong. Akhirnya bias main juga.”
       Setelah itu, Reno pun makan siang dulu, setelahnya lalu ke kamar dan menyalakan laptopnya dilengkapi dengan harddisk dan stik gamenya. Akhirnya diapun main. Tapi tidak disangka-sangka, setelah bermain hingga dia lupa waktu dan juga melupakan bahwa adiknya ada disampingnya, ternyata Ibunya membuka pintu kamar Reno hingga dia kaget. Dia hanya pasrah ditempat setelah fakta bahwa dia telah tertangkap basah, ibunya pun berkata:
“Reno, kenapa laptop itu ada di kamu padahal laptop itukan sudah ibu simpan di dalam kamar kakek?.”
Tidak ada kata lain “Anu..emm..seperti yang dipikir ibu.”
Sambil membawa laptop “Sudah mainnya, lebih baik kamu sepedahan diluar atau main sama adikmu tuh.”
“Terus ibu kenapa cepat banget kembalinya?.”
“Ibu kelupaan barang, jadi kembali dulu.”
       Singkat cerita, Reno pun keluar dari kamar dengan harus menerima bahwa laptopnya sudah tidak ditangannya. Dan dia sudah mengira bahwa ibunya pasti menyembunyikannya di tempat yang tidak kuketahui dirumah ini. Yah, jadi setelahnya seperti di awal cerita Reno pun nonton hingga waktu magrib dan setelah kejadian tersebut dia pun tidak pernah lagi menyentuh laptopnya hingga dia kembali ke sekolahnya.

cepen 'nak ar-rasyid

Liburan Pahit
by Zul Qayyimah Arifuddin
 
Liburan? Hmm,, Papi cepat sekali ingin menjemputku pulang ke rumah. Padahal, waktu libur tinggal beberapa hari lagi. Oh, aku tahu, mungkin saja papi tidak sabar menanti kehadiranku ngumpul bareng dengan keluarga tercinta. Atau mungkin, papi ingin aku pulang cepat agar aku bisa menikmati liburan ini. Hmm,, entahlah Tapi, candaanku berhenti seketika dan memikirkan hal aneh. “Oh, Tuhan. Mengapa ayah menyuruhku pulang ke rumah di tengah malam seperti ini? Ada apa gerangan?”. Hmm, kubenahi semua perlengkapan yang ingin kubawa pulang dan bergegas ke ruang tamu. Kupandang tiga orang dari kejauhan. Namun, aku masih bertanya tentang siapa orang ketiga itu. Orang pertama adalah Ust. Khaeruddin, selaku pembina asramaku, orang kedua adalah Pak Anwar, security di sekolah ini, sedangkan orang ketiga masih buram di pandanganku. Aku pun masih bertanya, di manakah papi yang kuharap kedatangannya untuk menjemputku? Tidak terdapat tanda apapun yang menandakan bahwa di sana ada papi, hanya ada mobil papi yang terparkir di samping orang itu. Hm,, entahlah.
Angin malam menyeret langkahku menuju ke ruang tamu dan menghampiri orang ke tiga yang kumaksud. Setelah mendekat, ternyata dia adalah omku, adik mamiku. Pikiranku melayang tertuju pada papi. Bahkan, perasaanku buruk mengenai papi di malam ini. Mengapa bukan papi yang menjemputku pulang? Ada apa dengan papi? Teringat kembali di hari kemarin, saat aku menelfon mami di asrama dan bercerita sedikit tentang kesehatan keluargaku di rumah, dan mami mengebarkan tentang kondisi papi yang tidak sehat. Hm,, kembali kukaitkan antara pikiranku dengan keadaan yang terjadi saai ini. mencoba untuk meraba kembali tentang apa yang terjadi. Senyum iba dari Ust. Khaeruddin memberikan kesan yang aneh di malam dingin ini. Kualihkan pandanganku pada Pak Anwar yang masih bersama kami, rupanya bukan hanya Ust. Khaeruddin yang memberikan sunggingan senyum bernuansa iba itu, tapi Pak Anwar pun demikian. “Hm,, aneh banget, sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Pa,, paa...piii?”, gumamku dalam hati. Lagi-lagi pikiranku mengarah ke papi dan tidak pernah lepas darinya.
Gelap malam ditemani dingin yang mencekam menambah suasana rasa penasaranku tentang apa yang terjadi dengan papi. Lama kami berbincang-bincang, akhirnya pembina asrama mengizinkan kami pulang. Kusimpan barang-barangku di bagasi mobil dan mengambil posisi duduk di bagian depan, tepatnya di samping omku itu. Suasana di dalam mobil terasa begitu kaku. Tak ada satu pun di antara kami yang berani tuk memulai pembicaraan. Hanya terdengar hembusan angin yang bergesekan dengan kendaraan kami. Bosan dengan suasana ini, aku mulai untuk melontarkan sesuatu dan bertanya tentang keadaan ayah yang menghantuiku sedari tadi.
“Ifir, bagaimana dengan kondisi papi? Mengapa bukan papi yang menjemputku?”, selidikku.
“Khm, ayahmu tidak mungkin bisa mengendarai mobil ini. Dia masih shok”, jawabnya dengan begitu tenang.
Kembali aku bermain di dalam pikiran dan mendalami satu kata yang telah diucapkan oleh pemuda yang berbadan tinggi ini, yaitu kata shok.
“Shok? Memangnya kenapa dan apa yang telah terjadi?”, tanyaku lagi.
Sambil mengusap air mata yang muncul di permukaan pipinya, pemuda yang berwajah gagah ini kembali menjawab pertanyaanku dengan nada basah,
“Bukan, bukan terjadi pada papimu, tapi adikmu, a..dik..mu meninggal”.
Mendengar kata “adikmu”, aku segera memotong pembicaraanya dan menanyakan tentang kabar Syawal, adikku. Kemudian, Ifir pun memberikan sedikit gambaran tentang kondisi Syawal saat ini. Meskipun ceritanya belum selesai, namun aku dapat dengan cepat menangkap apa yang ingin diucapkannya. Namun, aku tidak mau mendengar kata itu. Aku pun memotong pembicaraannya dengan teriakan histerisku di dalam mobil. Tidak, tidak sanggup aku kembali ke rumah karena kejadian yang sama sekali tidak kuharapkan. Tidak ingin rasanya aku melanjutkan perjalanan ini, aku bahkan tidak ingin mengetahui tentang apa sebenarnya yang telah terjadi di rumah.
Akhirnya, rasa penasaranku yang sejak tadi menghantuiku kini telah terjawab. Papi memang baik-baik saja, tapi sama saja. Begitu sulit bagiku tuk menerima hal ini. Syawal, yang selama ini telah mengajariku tentang arti hidup yang sebenarnya meski beliau masih bocah. Yah, kehidupannya yang penuh dengan kedewasaan itu membuatku iri melihatnya. Hm.. Oh, Tuhan.
Saat suara tangisku mereda, Aku tidak tahu harus berkata apa. Perasaan marah dan rindu tengah bercampur di dalam hatiku saat ini. Marahkarena tidak ada yang mengabarkan bahwa dua hari kemarin Syawal dirawat di rumah sakit, dan rindu karena saat ini aku begitu merindukan sosok malaikat kecil itu untuk berada di sampingku, namun semuanya terlambat. Pemuda berkulit hitam ini juga menceritakan tentang apa yang telah terjadi di kampungku, rumah oma. Ternyata, musibah juga menimpa mereka yang di kampung. Tante dan oma harus minggat dari halaman rumahnya sendiri karena diusir orang lain.
“Dasar, orang yang telah mengusir oma adalah orang yang tidak berpendidikan dan tidak berperikemanusiaan”, omelku.
Deras air mataku mengalir saat mendengar semua ujian dari Allah yang telah terjadi dalam waktu bersamaan ini. Cerita kesedihan ini mengantarkan kami sampai ke tujuan. Kubuka pintu rumahku dan tangis itu kembali pecah. Kakak dan adikku segera mendekap tubuhku dalam pelukannya dan berusaha untuk menenangkanku. Aku masih tidak percaya dengan kejadian ini, kali aja Syawal hanya tertidur dan bermimpi indah sehingga tidak ada yang bisa untuk membangunkannya. Atau mungkin, Syawal sedang berimajinasi dalam tidurnya sehingga sulit untuk dibangunkan. Lagi pula, saat ini masih tengah malam dan memang waktunya untuk tidur.
Kulangkahkan kaki menuju ruang tengah dan mendapati ibu sedang menangis di samping sosok mungil yang tubuhnya telah tertutupi kain. Aku belum sanggup menerima ini, dan belum berani untuk mendekat dengan ibu yang terlihat amat sakit. Lalu, kualihkan langkahku menuju kamar dan lagi-lagi mendapati sosok ibu yang baru melahirkan itu, yah tanteku juga sedang meneteskan air mata. Pun, kudapati oma yang sangat jelas matanya membengkak lantaran air mata yang tak berkesudahan juga. Aku tahu, mereka juga merasakan kesedihan yang teramat dalam. Selain karena kehilangan Syawal, mereka juga harus kehilangan tempat tinggal mereka.
Setelah itu, aku mencoba tuk memberanikan diri kembali menengok ibu yang masih terbaring lemas di samping buah hatinya. Aku juga memberanikan diri tuk membuka kain yang menutupi wajah Syawal. Subhanallah, ternyata, wajahnya begitu bersih, tidak lagi kudapatkan bintik-bintik biru di tubuhnya. Cahaya putih bagaikan menyelubungi wajah mungilnya, putih bersih. Kuperhatikan tubuh Syawal dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ternyata, Syawal bukan lagi bocah ingusan. Anak manis ini sudah gede. Oh, Tuhan, betapa sakitnya perasaan mami saat ini. Harus kehilangan buah hati untuk kedua kalinya setelah kepergian Kautsar, anak kedua beberapa tahun silam.
Masih jelas terekam dalam ingatan, saat pertama kali aku melihat Syawal lahir di dunia ini. Tubuhnya dipenuhi oleh bintik-bintik lebam seperti telah dipukuli. Tali pusarnya juga aneh, terus menerus mengeluarkan darah, tidak seperti bayi normal biasanya. Mamiku pun mencoba memeriksa ke dokter Ahmad Gasim, spesialis anak. Ternyata, Syawal menderita penyakit hemophilia. Penyakit ini tidak memiliki obat yang pasti, pasien hanya diberi suntikan vitamin K agar mampu membantu membekukan darah yang mengalir.
Meskipun dibesarkan dengan penyakit yang tidak remeh, bocah lucu ini tidak pernah menyerah untuk menjalani hidup. Aku salut dengan beliau, betapa tidak, penyakit ganas yang menghinggapi tubuhnya harus ditanggung sendiri olehnya. Aku tahu, begitu terganggu hidupnya, pun teramat sakit. Aku juga yakin bahwa aku tidak akan sanggup menjalani hidup dengan penyakit yang sedemikian parah. Sedangkan Syawal, sunggingan senyum di bibirnya tidak pernah lepas. Bahkan anak ini begitu kuat dan tetap tegar terhadap apa yang dia alami. Dokter yang menanganinya pun harus mengakui bahwa Syawal adalah anak yang hebat.
Kupandang papi yang air matanya telah menguap, tak lagi basah. Aku tahu apa yang ada dipikiran papi saat ini. Mengenang kisah yang telah lalu dan mustahil tuk kembali. Aku masih sangat ingat, bahwa Syawal satu-satunya anak papi yang berani tuk berangkat ke masjid untuk shalat subuh berjamaah meskipun harus sendirian. Syawal yang selalu membangunkan papi jika tiba waktu shalat subuh. Yah, shalat subuh. Waktu di mana para penghuni bumi masih terlelap dalam tidurnya dan lebih memilih kasur empuk ketimbang melangkahkan kaki menuju rumah Allah. Shalat lima waktu tidak pernah ia tinggali. Sangat takut jika salah satu shalat wajib itu tidak ia penuhi. Oh, iya, aku masih ingat cita-cita Syawal yang tidak ingin menjadi orang yang memiliki karir besar seperti profesi yang diidam-idamkan anak laki-laki lainnya, karena dia tahu tentang kehadiran penyakit yang menghinggapi tubuhnya tak akan mampu membuatnya hidup sehat sempurna. Seperti tentara, polisi atau yang lainnya. Syawal hanya ingin menjadi ustadz sang penghapal al qur’an, yang katanya akan memberikan syafaat di hari kiamat nanti. Ya Allah, sungguh cita-cita yang mulia.
Ketika Bulan Ramadhan, Syawal bertekad keras untuk berpuasa selama sebulan penuh, beliau selalu berusaha untuk tidak berkalah. Namun, takdir berkata lain. Hal itu tidak mungkin terjadi, karenan mami dan papi selalu saja mengkhawatirkan kondisi Syawal yang semakin hari semakin melemas. Memang sih, aku pun takut melihat kondisi Syawal ketika penyakitnya mulai kambuh. Bocah berkulit sawo matang ini harus bermain dengan cairan merah lagi jika waktunya telah tiba, dan darah itu terus mengalir dalam waktu yang cukup lama. Ngeri bercampur kasihan jika aku melihatnya, dan mulai membayangkan jika aku yang berada di posisinya. Aku juga masih ingat ketika hendak berbuka puasa, pasti adikku itu selalu ingin mengambil semua hidangan yang telah disajikan mami tercinta, dan sangat lucu karena setelah itu dia tidak bisa bergerak lantaran perut yang terisi penuh. Hahaha.. Syawal,, Syawal.
Namun, itu semua hanya tinggal kenangan. Kini, tidak lagi kulihat senyum mungil dari wajah bocah imut itu. Aku hanya bisa berdo’a agar dipertemukan di tempat terindah di sisi sang pencipta. Bahkan, di hari ini, aku ingin sekali bertemu kembali dengannya walau hanya sekejap. Yah, sekejap.
Teringat kembali saat pertama kali aku dijemput di tengah malam yang begitu dingin. Terkaan pertama adalah merasa bahagia karena menurutku papi tidak sabar menanti kehadiranku untuk berada di tengah-tengah kumpulan keluarga. Aku juga berpikir bahwa papi menjemputku agar aku bisa liburan bersama mereka, dan menikmatinya dengan suasana kebahagiaan. Tapi ternyata salah, aku salah dalam menerka semua ini. Bahkan, realita yang terjadi bahwa semuanya berbanding terbalik dengan apa yang telah kupikir sebelumnya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, karena apa yang terjadi di hari ini sama sekali tidak kuminta dan tidak akan pernah kuharapkan. Oh, Tuhan. Izinkan aku meluapkan perasaanku lewat air mata yang tengah berurai ini.
Di balik tirai jendela, dengan ditemani tarian pangeran katak dan nyanyian jangkrik kumencoba merenungi setiap episode-episode saat bersamanya. Namun hampa, ingatan ini hanya membuatku kembali meneteskan bulir-bulir air hangat dari bola mataku. Tuhan, jika boleh, izinkan aku bertemu dengan adinda tercinta dalam mimpiku malam ini. Aku benar-benar merindukan sosoknya hadir bersamaku. “Aah, lebih baik aku tidur daripada terus menangisi malaikat kecil itu, toh tangisanku tidak akan mampu tuk membuatnya kembali. Bismillahirrahmaanirrahiim, bismikallahumma ahyaa wabismika amuut.” Kututup kisahku di hari ini dengan lantunan do’a serta berharap untuk bisa bertemu dengan adinda tercinta, Syawal. Selamat tinggal adinda sayang, tenang di alam sana yah, engkau akan menolong papi mami di hari akhirat kelak”, tutupku tatkala mataku terpejam.
Para pembaca yang budiman, mari belajar dari kisah Syawal yang digambarkan dalam cerita ini. Tak pernah menyerah walau harus menahan sakit yang dideritanya. Penyakit ganas yang tidak banyak orang bisa bertahan dalam waktu kurang lebih sepuluh tahun. Sunggingan senyum yang tidak pernah pudar dari bibir manis malaikat kecil ini. Tetap semangat dan selalu setia dalam melangkahkan kaki menuju kebaikan, juga tak pernah takut untuk berjalan di pagi buta meski melangkah hanya seorang diri demi mencapai keutamaan shalat subuh berjamaah di masjid. Cita-citanya yang ingin selalu menjadi hafidz, mengahapal sembari memahami ayat-ayat Allah. Yah, mungkin banyak di antara kita yang selalu lalai dalam melaksanakan ibadah yang seharusnya wajib kita kerjakan. Atau mungkin, kita selalu mengeluh dan tidak pernah sabar tatkala ujian Allah datang menimpa kita. Olehnya itu, cerita ini hadir memberikan dorongan untuk teman-teman sekalian agar tetap semangat dalam menapaki episode-episode kehidupan yang begitu rumit ini.
SELESAI

cerpen 'nak ar-rasyid

Fatamorgana Cinta
by Ba'id Aiziah
 
      Angin berhembus menusuk hingga kedalam tubuh membuat tubuh membeku kedinginan. Hery berjalan menuju mushollah diantara rindangnya pohon-pohon yang tak henti-hentinya melambai-lambai kepadanya. Bel berbunyi pertanda waktu masuk mushollah tinggal 5 menit lagi.
“kenapa?” Tanya jery teman hery.
“nggak ada apa-apa kok, cuman nggak kebiasa datang ke mushollah secepet ini.” balas hery.
“kirain lho dulu sekolah di SMP islam?”
“iya emang, tapi….di sekolah gue dulu nggak ada yang namanya sholat subuh berjamaah. Dulu yang    ada cuman sholat dhuhur berjamaah”
“oh, emang dulu sekolahnya nggak mondok?”
“nggak”
       Hery pun mempercepat langkah ke mushollah. Ia berjalan bersama dengan kedua temannya, James yang merupakan seorang muallaf dan Rasyid yang merupakan temannya dari SMP. Tanpa mempedulikan dingin yang menusuk hingga ke tulang- tulang, Mereka tetap berjalan secepat mungkin. Mereka takut terlambat lagi ke mushollah.
       Sesampainya di depan mushollah Hery melihat Ustadz Yusuf sedang menjaga. Dengan sekuat tenaga ia menarik nafas dan berjalan menuju mushollah. Melihat Hery sedang berjalan menuju mushollah Ustadz Yusuf pun berjalan menghampiri Hery sambil membawa rotan.
“Kamu lagi kamu lagi, tiap kali saya mencatat bisa nggak nama kamu nggak ada?”
“Maaf ustadz saya tadi malam begadang”
“Makanya lain kali jangan begadang lagi. Sebagai hukuman, besok dan seterusnya kamu yang mencatat ya? Saya tidak mau terima alasan apapun jika kamu terlambat mencatat apalagi tidak mencatat!”
“Tapi ustadz….”
“Ah tidak ada…..saya tidak terima alasan apapun.”
“Baiklah ustadz”
***
       James berjalan menghampiri Hery yang berada diujung selasar sekolah. Ia heran melihat tingkah aneh Hery yang tiba-tiba menjadi murung dan bermuka kusut tanpa sebab yang jelas.
“Lho kenapa Ry? Kok tiba-tiba muka lho jadi kusut gitu?”
“Gini nih James..gue rindu sama pacar gue Farah yang ada di Makassar, terus gue juga pusing karena sekarang ini gue harus bisa datang cepet ke mushollah soalnya gue dihukum mencatat orang yang terlambat datang”
“hahaha…. Makanya jangan keseringan terlambat…kalau punya waktu itu dimanfaatin sebaik mungkin”
“iya deh yang lho bilang itu bener…”
       Bel pun berbunyi. Seluruh siswa pun berjalan menuju kelas masing-masing. Namun berbeda dengan siswa lain, James dan Hery tetap saja berdiri di ujung selasar sambil memandang indahnya perpaduan warna antara pepohonan hijau dan warna-warni bunga-bunga yang ada di taman sekolah. Tak lama kemudian terlihat beberapa guru yang membawa buku dan berjalan menuju ke kelas mereka. Melihat hal itu, Hery dan James pun mulai melangkahkan kakinya menuju ke kelas mereka.
 ***
       Seusai sholat magrib, Hery langsung berjalan menuju kamarnya dan berbaring diatas kasurnya yang empuk. Lama kelamaan ia mulai memejamkan matanya dan mulai menuju kedunia mimpi. Namun tiba-tiba James dan Rasyid datang sehingga Hery terbangun.
“Hary Hary Hary….!” Teriak James dan Rasyid.
“Ada apa? Ngebangunin gue aja” jawab Hery.
“Lho mau nggak naik ke loteng?”
“Buat apa? Buang-buang waktu aja. Mending gue tidur.”
“Anak-anak lagi buat acara di atas nih. Lho mau nggak? Diloteng pemandangannya indah lho..”
“Diatas banyak orang kan?”
“iya”
“Oke deh gue bakalan ikut sama lho berdua”
“Ya… gitu dong.. “
       Hery, James, dan Rasyid pun berjalan menuju samping ranjang susun dan mulai memanjat untuk naik keatas loteng. Sesampainya diatas loteng ternyata sudah banyak orang yang berada di sana. Ada yang ngumpul-ngumpul sambil makan cemilan, ada yang mengamati bintang dengan bantuan buku-buku dan peta bintang, juga ada yang berbaring sambil memandang indahnya langit malam yang bertaburkan bintang-bintang ditemani dengan sinar bulan yang bersinar lembut.
“Ternyata disini seru juga ya?” kata Hery.
“kan gue udah bilang sama lho” balas Rasyid
       Hery, James, dan Rasyid pun bergabung dengan teman kelas mereka yang sudah duluan datang. Mereka berkumpul dan mulai mengumpulkan makanan yang mereka bawa. Ada yang membawa roti, snack bahkan ada yang membawa makanan berat. Setelah makan mereka pun menyayi bersama dan berbaring sambil menikmati indahnya malam.
       Keesokan harinya di mushollah, semua orang tampak serius mengaji meskipun ada diantara mereka yang bercerita dan mulai mengangguk-ngangguk pertanda mereka sudah mulai tertidur. Tampak seorang anak berbaju putih memakai sarung biru dan berkopiah hitam mulai mencatat orang-orang yang mulai tertidur. Tiba-tiba Ustadz Syam selaku kepala sekolah di sekolah itu naik ke mimbar .
“Tadi malam saya pergi berkeliling ke asrama dan mendapati kalian semua tidak ada di asrama. Kemudian saya mendengar suara ribut di loteng dan amelihat salah satu orang memanjat naik keloteng. Untuk itu yang merasa naik keloteng tadi malam silahkan mengumpulkan karu poinnya di meja saya sekarang!”
“Baik pak”
       Pak Syam pun berjalan meninggalkan mushollah. Kemudian disusul oleh siswa-siswa yang mulai beranjak meninggalkan mushollah menuju asrama untuk mengambil kartu poinnya.Tak sedikit yang mengumpulkan kartu poinnya dikarenakan acara di loteng tadi malam telah direncanakan satu minggu yang lalu. Hary termasuk salah satu orang yang naik ke loteng sehingga ia pun juga harus mengumpulkan kartu poinnya.
***
       Pagi yang cerah ditemani sejuknya embun pagi. Hery terlihat berjalan menuju ke depan kamar ustadz Yusuf yang berada di ujung lorong asrama. Tanpa ia sadari ternyata banyak pasang mata yang mengawasinya dari dalam kamar.
“Lho mau kemana Ry?” Tanya Jery
“oh… Gue mau pergi menghadap ke Ustadz Yusuf” jawab Hery
“Mau ngapain lh..o kesana? Emangnya Lho dapet masalah?”
“Nggak, gue cuman mau mengkonfirmasi untuk jadi imam sholat ashar nanti”
“Tumben banget lho mau jadi imam?”’
“Gue mau jadi imam soalnya gue mau nambah poin gue yang berkurang gara-gara naik ke loteng tadi   malam”
“Ya… gue kirain kenapa, dasar!!”
        Sesampainya didepan kamar pak Yusuf, Hery pun menarik nafas dan mengetuk pintu kamar pak Yusuf.
“Hmm…siapa?” terdengar suara dari dalam kamar pak Yusuf.
“Saya pak, Hery”
“Oh Hery… masuk. Ada apa datang kemari?”
“Gini pak saya mau jadi imam sholat ashar nanti. Bisa nggak pak?”
“Oh silahkan. Setelah jadi imam nanti, kumpulkan kartu poin kamu diatas meja saya ya? ”
“Baik pak”
       Hery pun keluar dari kamar pak Yusuf sambil tersenyum bahagia karena kini poinnya dapat bertambah dan tidak lagi terancam mendapatkan SP (Surat Peringatan) dari sekolah.
       Malam harinya Hery dipanggil oleh pak Yusuf tanpa alasan yang jelas. Sontak hal ini membuat Hery bertanya-tanya tentang apa yang telah ia lakukan. Bukan hanya Hery yang bertanya-tanya akan hal itu kedua sahabatnya juga bingung akan hal tersebut. Hery pun masuk ke kamar pak Yusuf.
“Ada apa pak? Apakah saya punya salah?”
“Tidak saya cuma ingin kamu menjadi salah satu imam di mushollah ini, karena cara imam kamu tadi lumayan bagus. Tidak cepat dan tidak lambat, bagaimana kamu mau?”
“Kalau saya sih terserah pak”
“Bagus.”

       Hery pun keluar dari kamar pak Hery sambil tersenyum bangga sehingga semua mata tertuju padanya. Melihat Hery tersenyum James pun menghampirinya.
“Kenapa lho? Kok senyum-senyum sendiri?”
“Lho tau nggak James, sekarang gue termasuk salah satu imam di mushollah”
“Kok bisa?”
“Katanya cara gue imam tadi bagus, jadinya gue dijadiin imam tetap di mushollah”
“Selamat ya Bro”
       Hery pun berjalan meninggalkan James menuju ke kamarnya untuk tidur.
***
       Hari demi hari telah berganti. Hery yang dulunya suka terlambat kini telah berubah menjadi sesosok pemuda yang rajin beribadah. Bukan hanya itu, Hery juga sudah mulai mempelajari dan menghafal hadis-hadis. Banyak yang mengatakan kalau Ia mirip dengan ustadz Kevin sehingga ia mulai mengikuti style ustadz Kevin.
       Besok telah dimulai libur tengah semester pertama. Sehingga sore harinya para siswa mulai packing-packing untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Pada malam hari Osis akan mengadakan acara Pensi.Pada acara Pensi itu semua siswa diwajibkan memakai pakaian ala timur tengah. Hery pun menirukan cara berpakaian ustadz Kevin. Sontak hal itu membuat seluruh siswa tertipu. Mereka mengira Hery adalah Ustadz Kevin sehingga ketika Hery lewat semua siswa mundur sambil tertunduk.Hery hanya bisa tertawa melihat semua tingkah teman kelasnya bahkan kakak kelasnya yang tertunduk melihatnya berjalan. Orang
       Paginya Hery bersama dengan Rasyid terlihat menunggu mobil jemputan. Sambil menunggu mobil mereka   mengobrol tentang kemana mereka akan pergi berlibur.
“Her, Lho mau kemana sesampai di rumah lho nanti?”
“Nggak kemana-mana aja kok. Gue nanti cuman mau ke rumah Farah buat mutusin dia”
‘’kenapa?kok bisa”
“Gue rasa yang gue lakukan sama Farah itu udah kelewatan.”
“Jadi ceritanya lho udah mulai sadar?”
“Ya iyalah’’
                      Sesampainya di rumah Hery langsung menuju ke kamarnya dan langsung beristirat.
***
       Hery berkelilig kota Makassar ditemani Rasyid dan kedua sepupunya Fairus dan Rezky. Setelah puas berkeliling Hery mengajak Fairus, Rezky Dan Rasyid untuk pergi ke rumah Farah.Setelah sampai Hery mulai mengetuk pintu rumah Farah dan tak lama kemudian sebuah suara perempuan terdengar dari dalam rumah.
“Siapa?”
“Ini saya Hery”
“Oh kamu Her..” kata Farah sambil keluar dari rumah.
“Apa kabar?” tanya Hery
“Baik. Kalau kamu bagaimana?”
“Baik kok. Gini aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Apa?”
“Aku fikir lebih baik hubungan kita diakhirin aja soalnya menurut aku hubungan ini udah melewati batas” ,Perkataan Hery tersebut sontak membuat Farah menangis.
“Tapi Her aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu Her. Selama kamu pergi aku nggak pernah berhubungan dengan cowok lain. Demi kamu Her” tutur Farah sambil menangis.
“Tapi itu semua ilusi nggak ada cinta didunia ini selain cinta karena Allah Far! Aku yakin kamu mencintaiku karena kelebihanku”
“Tidak Her, tidak! Aku tulus mencintai kamu”
“Sudahlah…ini yang terbaik bagi kita”
“Taapi…”
“Lebih baik sekarang kami pulang. Assalamualaikum”
“Her..Her…..”
       Hery pun berjalan meninggalkan Farah menuju motornya. Kini Hery telah benar-benar berubah dan ia berjanji akan lebih sering belajar tentang agama dan tak ada siapapun yang ia cintai kecuali sang maha pencipta…

cerpen 'nak ar-rasyid

Spektrum cinta yang sirna
by Muhammad Wahyu 
         Hari yang cerah, kini kicauan burung telah kembali membuka cakrawala petualangan hidupku. Pagi yang indah, langit dengan tudung birunya juga tampilan siluet-siluet putih nan lembut tak mau ketinggalan juga si bola langit yang selalu tampil memukau, walau nampaknya masih malu-malu.
         Kumulai langkahku pagi ini dengan lantunan asma Allah. Sang penentu segalanya. Pagi ini tujuan utamaku adalah gedung kantor Qyu FM. Karena di gedung ini tempat penjualan tiket konser artis favoritku. Bruno mars. ku ingin sampai secepat mungkin agar tidak kehabisan tiket. Akhirnya ku putuskan untuk setengah berlari kesana mungkin karena terlalu bersemangat tanpa sengaja aku menabrak seseorang seketika itu pula aku langsung tersungkur ke tanah dan dan ahh !!! kok belum sampai ke tanah, batinku.ku coba membuka mataku dan kulihat sepasang tangan yang menolongku tadi. Ku coba palingkan wajahku dan kulihat sesosok pria yang berperawakan tegasnan tgap yang tampak serdas dan intelegent. Dunia terasa berada di akhirr rotasinya. Waktu seakan melambat. Ya tuhan apakah yang sedang ku rssakan ini ?. gumamku dalam hati. “maaf saya tisdak segaja tadi !” kata pria ini sambil menyadarkanku dari lamunanku” Ah iya nggak apa-apa lagian aku kok yang salah” balasku sambil membetulkan posisi dan busanaku. Kejadian ini terjadi begitu singkat tapi mengapa sangat membekas.
           Setelah itu ku teruskan langkah ku ke tempat tujuanku. Setelah ku masuk ku langsung menuju tempat penjualan tiket tersebut. Tiba-tiba si penjual tiket berteriak “ayo yang mau beli tiket cepetan tinggal dua tiket lagi” refleks ku langsung berlari secepat mungkin dan brukk ! aku terjatuh lagi entah siapa lagi yang menabrakku untuk kedua kalinya . karena rasa penasaran aku pun menoleh ke samping dan kulihat cowok itu lagi.”maaf” kata itu terucap lagi dari bibirnya yang tampak sangat memukau. “eh kamu kan cowok yang ada di depan tadi kok bisa ketemu disini lagi, kamu mau kemana ?’ tanyaku penuh selidik.”oh aku mau beli tiket . tadi kta penjualnya tiketnya tinggal dua spontan aku lari karena tidak mau kehabisan tiket” balasnya“oh kamu mau beli tiket juga ? sama dong. Kalau bigitu kita pergi bareng bareng yuk!” ajakku seketika itu.
Setelah kejadian itu kami pun kenalan dan akhir aku tau siapa namanya . yuda ananta tur. Hampir mirip dengan nama sastrawan favoritku. Pramudya ananta tur. Semakin hari hari aku semakin sering diajaknya jalan sampai pada malam minggu ini dia mengajakku makan malam di sebuah taman yang ditegahnya ada semacam pancuran air yang selalu mangalirkan air di tengah taman itu . aku terus menunggu menunggu dan menunggu samapai akhirnya ia pun datang dan berkata “boleh aku tutup mata kamu aku mau menunjukkan sesuatu ke kamu ? “oke!” jawabku tanpa pikir panjang lagi. Aku tidak tau kemana dia ingin mengantarku, tapi yang jelas saat ini aku menaiki tangga dan tibalah aku ditempat yang ia maksud.”siap? “ katanya “yah aku selalu siap” jawabku dengan mantap .
Seketika itu aku terperangah .terperanjat ku dibuatnya . aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Aku seakan terbang melayang dan mengapung diudara .malam ini aku benar dibuatnya terpukau karena dari tempat yang tinggi ini aku melihat dibawah san ada kelap-kerlip lampu yang bertuliskan “ I LOVE YOU” kupandangan dia dan ku lihat dia mengulurkan sebuah kotak yang berisi sepasang cincin . dengan malu-malu kuanggukkan kepalaku dan diapun memasangkan cincin itu ke jari manisku.. aku pun diajaknya malam ini berkeliling kota menikmati suasana malam yang penuh dengan gemerlap. Tuhan terima kasih atas semua ini. Ini membuatku semakin sempurna.
Keesokan harinya, tante andien nelpon. Ada apa tante andien nelpon sepagi ini?. Tantaku dalam hati..
”iya halo tante ada yang bisa saya bantu . ? “ jawabku sekedar basabasi.
“intan . Ana intan dia kena kanker otak stadium tiga” jawabnya tersedu-sedu seperti sedang menahan kepedihan yang sangat pedih.
“kok bisa tante ?” tante juga nggak tau!
” baik tente aku akan segara kesana” jawabku setengah buru-buru.
Taklam kedian aku sampai di rumah sakit tempat Ana dirawat.
”hai Ana apakabar? “ tanyaku sekedar ingin memberinya semagat pagi
“baik” jawabnya
“aku punya kabar bagus untuk kamu, aku semalam udah jadian lohh” “wah selamat . kamu gadis yang sangat beruntung karena udah memiliki kekasih dan masih berumur panjang, sedangkan aku udah nggak punya pacar dan sebentar lagi aku juga akan mati”
”eh! Jangan ngomong kayak gitu, kamu pasti sembuh”
aku tahu apa yang dirasakan teman sejatiku ini. Dia sudah kuanggap sebagai saudraku sendiri.ya tuhan apa yang harus kulakukan untuk mengisi kebahagiaan temanku di sisa hidupnya . apa harus ku pinjamkan yuda kepada Ana untuk jadi pacar sementaranya Ana. Pikirku . oke biarlah ini juga cuma sementara kok !. oke akan kulakukan semua untukmu Ana .
Malam ini aku sengaja mengajak yuda untuk ketemuan di tempat biasa kami bertemu.
”yudai, ada yang mau ku bicrain sama kamu !”tanyaku mencairkan suasana .
“apa , kamu ceritain aja . aku siap dengar kok.”balasnya.
“gini aku kan punya sahabat sejati namanya tuh Ana dia sudah gue anggap sebagai saudara sendiri . daituh kena kanker stadium tiga. Trus dia tuh sanagt mau ngerasain yang namanyan cinta , jadi kamu mau nggak jadi pacar sementaranya dia . sementara ajah kok. Mau yahhh” pintaku sambil merengerk kepadanya
“tapi, apa kamu rela dan ikhlas melihatku dengan gadis lain? “
“iya aku rela demi Ana” jawabku setengah ragu. Tuhan aku yakin engkau akan membantuku. Batinku penuh harap.
Akhirnya siang ini kuperkenalkan yuda pada Ana dan kuceritakan semua . yuda pun ikut serta .dan akhiernya Ana pun mau. Aku sudah bilang pada Yuda agar berusaha mencintai Ana seperti dia mencintaiku. Semua berjalan seperti apa yang aku iginkan sampai pada hari dimana Ana harus dioperasi yuda pun masih bersmanya dan selalu setia disampingnya . Ya tuhan mengapa hatiku seperti sangat susah mengikhlaskan mengapa aku seperti ini tuhan tolong tabahkan hatiku. Doaku di sujudku siang ini. akhirnya operasi Ana hari ini berjalan lancar tanpa gangguan. Aku pun ingin menemui Ana di kamar rawatnya . tapi,ku urungkan niatku unuk masuk kesana karna kulihat yuda mencium kening Ana dengan penuh kidmat aku tak mau mengganggu suasan yang penuh kebhagiaan ini. Tapi, tuhan apa ini , Kenapa pipiku basah kenapa tiba-tiba air mataku tak mampu terbendungi. Yah tuhan kenapa aku merasakan sakit yang teramat perih tuhan bantu aku kumohon. Kataku dalam hati sambil menanguis tersedu-sedu. Tiba-tiba tante Andien berada di dekatku
“eh tante” jawabku segera sambil menghapus bulir-bulir air mata yang tak kunjung berhenti ini. Ku dibuat   terperanjat..
“terima kasih nak, berkatmu Ana jadi sembuh total” jawabnya penuh dengan kebahgiaan dan juga lengkungan bibir manis yang penuh dengan keikhlasan dan tanpa ada sandiwara disana
”aku turut bahagia tante “balasku .
setelah itu aku pamit pulang dan diantar oleh yuda .
“ yud, besok aku mau cerita sama kamu , kamu ada waktu nggak? “ tanyaku sebelum turun dari mobil.
“yah tentu saja di tempat biasakan ? ”aku pun megangguk tanda setuju . aku pun berlalu. Dan langsung merebahkan badan di kasur empukku.Hufft . desahku. Aku pun terlelap dengan sanagat cepat.
Pagi ini cuaca mendung. Awan tampak mulai meneteskan sedikit demi sedikit bulir-bulir peluhnya ke bumi persadaku.warisan pertiwi. Ku tengok jam dindingyang menempel di dinding kamarku yang bercat serba biru. Warna favoritku. Jam itu menunjukkan pukul 09.00. aku tlah menunggu yuda di jendela kamarku. Karena sudah terlalu lama menunggu aku putuskan untuk tidur sejenak sampai yuda datang. Dalam tidurku aku bermimpi yuda hilang dan diambil oleh orang yang sangat ku kenal.Ana. astagfirullah! Langsung terjaga dari tidurku . tuhan pertanda apa ini, apakah benar yuda akan direbut oleh Ana ?. batinku penuh cemas. Sekali lagi ku lihat jam dindingku. Hahh ! kenapa yuda belum juga datang ?.gumamku. segera kuraih Handphone-ku dan kucari kontak yuda dan segera menghubunginya. Perasaanku menjadi tidak enak. Apakah gerangan yang terjadi ?.
”ya halo intan. Tunggu bentar yuda lagi ke WC, emangnya ada perlu apa? Nanti saya sampaikan”.
Dadaku sesak seketika jadi, yuda lebih pilih Ana dari pada aku.batinku.
”kamu sekarang dimana?”tanyaku.
”di restauran nusa”jawabnya.
Tuhan itukan tempat favorit yuda dan aku. Aku pun menutup telponnya dan bergegas menuju restauran nusa. Sesampai disana aku langsung dibuat hancur karena aku langsung melihat mereka berpegangan tangan. Aku pun mengahampiri mereka
“yud, aku mau bicara sama kamu “. Yuda pun akhirnya ikut di belakangku.
“yud kamu mau kita putus ?”
“maksud kamu ?”
“iya buktinya kamu lebih pilih Ana daripada aku”balasku dengan nada tinggi.
” Kamu jangan cemburu tan, aku kan lakukan ini hanya boongan nggak asli’. Iyah tapi aku juga nggak tau kenapa saat liat kamu dengan Ana aku selalu cemburu”
”aku mau kalian putusdan kiata kembali seperti dulu" pintaku pada yuda.
“kamu jangan egois seperti ini,kamu yang bilang aku egois, kamu bilang aku egois ketika aku menuntut cinta yang sempurna darimu”
“iya karena kamu Cuma memikirkan dirimu sendiri kamu tidak pernah memikirkan Ana yang umurnya tinggal 2 hari lagi”
“Ana udah sembuh total”
“hah itu bohong, dia berkata kayak gitu Cuma karena ingin membuat tante andien senang aku nggak mau tau pokoknya kamu harus putus sekarang juga, titik!” nada suaraku makin meninggi.
”dasar egois. Kamu tahukan aku paling sama orang egois. Oke kita putus aku lebih suka orang yang umurnya dua hari lagi dari pada orang egois seperti kamu.”bentaknya.
yuda pun pergi bersama Ana dan meninggalkan aku sendiri.untuk selamanya. Tuhan apakah benar aku seegoh itu?.

Jumat, 28 November 2014

Berikut Tips Untuk Menguasai Matematika :

1. Luruskan Niat

Pertama, yang wajib kita lakukan adalah “Meluruskan Niat” dalam proses belajar matematika, janganlah belajar matematika hanya untuk mendapatkan nilai bagus unutk syarat lulus mata ujian Matematika. Karena hal ini akan berdampak saat kita telah melewati ujian/test, maka kita akan meninggalkan dan melupakan materi matematika yang telah kita pelajari. Niatkan belajar matematika kita untuk menambah pengetahuan. Dengan belajar matematika, daya nalar otak kita akan lebih terasah dengan baik sehingga mudah menerima pelajaran lain. INGAT sekali lagi, jangan berorientasi kepada Hasil ujian, tapi berorientasi pada Proses belajarnya.

2. Kenali, pahami kemudian CINTAI keindahan matematika

Point ini paling penting dalam proses belajar matematika. Akan sangat mudah apabila mempelajari sesuatu jika kita dapat mencintainya terlebih dulu. Bagaimana dapat mencintai matematika jika kita saja tidak mengenalnya? maka sebelum mencintai kita harus mengenal apa itu matematika, apa fungsi matematika bagi kehidupan sehari hari. jika kamu dapat mengenalnya, maka kamu akan lebih tahu bahwa matematika sangatlah dibutuhkan didalam kehidupan sehari hari, contoh sederhana, ketika tukang bangunan mengerjakan sebuat Fondasi rumah, maka dia harus menghitung secara teliti agar pondasi tidak timpang, maka dari itu digunakanlah beberapa rumus matematika. Maka Tanamkanlah dalam pemikiran kita bahwasannya matematika itu sesuatu yang sangat berguna, menarik dan sebagai teka-teki menyenangkan untuk dipecahkan. Jika kita dapat mencintainya, Semua rumus yang kelihatan rumit tiba tiba akan menjadi sangat mudah untuk dipelajari. kira-kira begitulah kekuatan cinta, yang kotoran kucing pun bisa jadi coklat :-)

3. Berdoa

Sebelum memulai mempelajari matematika, ada baiknya berdoa agar Tuhan memberi kemudahan bagi untuk memecahkan setiap persoalan yang terdapat dimateri yang kita pelajari. Bukankah Tuhan itu Maha Mengetahui? Maka mintalah kepada-NYA sedikit pengetahuan agar kita dapat memahami materi matematika yang kita pelajari. Selain itu agar kita dapat tetap konsisten dalam belajar dan gigih berusaha, serta tidak mudah untuk putus asa dalam belajar. Do'a juga bagian yang tidak boleh kita lupakan.

4. Banyak Latihan dan Belajar

3 point sebelumnya akan sangat tidak berguna jika kamu tidak mengambil langkah untuk segera belajar dan banyak berlatih dengan RAJIN dan juga KONSISTEN. terkadang kita semangat sekali untuk belajar, namun ada juga saat dimana ketika malas sekali untuk belajar. Maka disini butuh kedisiplinan dalam mempelajari matematika. Dalam 1 hari tidak perlu meluangkan banyak waktu untuk belajar, cukup sedikit namun tetap kontinyu. Matematika adalah ilmu hitung, tentu akan menjadi semakin baik belajar ilmu hitung dengan banyak berlatih menghitung. perbanyak latihan membahas soal, karena jika sudah terbiasa, maka akan mudah untuk menyelesaikan soal yang sama dikemudian hari. Selain itu juga dapat membantu pemahaman kita pada matematika semakin mendalam.

6 tahap cara belajar matematika yang baik:

a. Pahami Materi dengan rumus rumusnya
b. kelompokan rumus rumus yang ada
c. mulai mengerjakan soal-soal yang ada pembahasannya.
d. kerjakan soal tadi tanpa liat pembahasan.
e. kerjakan soal lain yang tipenya sama.
f. Terus berlatih soal-soal yang lain.
g. jangan hanya belajar dari satu buku, karena biasanya ada buku yang tidak menjelaskan persamaan secara detail sehingga susah untuk dipelajari. Jadi disarankan agar mencari buku referensi yang lain agar semakin mudah dalam mempelajari.


tips mudah belajar matematika
Jika menyelesaikan soal pilihan ganda, pertama-tama baca dulu sebagian jawaban, lalu bacalah pertanyaannya, lalu lihat lagi jawaban semuanya, baru cari jawaban (dengan cara ini… kamu akan tahu maksud dari soal itu)

5. Tiada kata “Aku Tak Bisa” dan “Putus Asa”

Putus Asa merupakan sebuah penyakit yang sering ditemui setiap orang ketika akan berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Ketika belajar matematika, hindarilah kata putus asa, ketika kita menemukan soal rumit,maka segera minta bantuan pada guru matematika atau teman yang sudah lebih memahami. sebisa mungkin jauhkan diri kita dari mengucapkan “Aku Tak Bisa” karena hal tersebut hanya dapat memperburuk keadaan, ketika kamu merasa tidak bisa mengerjakan, maka katakanlah “Aku Pasti Bisa”!! Beri semangat dan motivasi untuk diri kita sendiri, karena semua permasalahan pasti ada pemecahannya..

6. Sabar..

Sabar dalam belajar matematika, sabar dalam memecahkan persoalan matematika, sabar dalam melaksanankan segala sesuatu, dan Tuhan bersama dengan orang-orang yang sabar.

Cara Mudah Belajar Mencintai Matematika

Matematika dicap sebagai pelajaran yang paling ditakuti oleh kebanyakan siswa. Hal ini membuat pelajaran matematika dibenci siswa. Padahal matematika benar benar berguna bagi kehidupan sehari hari. Para pedagang, tukang bangunan, tukang Las, bahkan tukang parkir pun menggunakan matematika untuk menghitung uang yang didapatkan dari pengendara.


Matematika adalah kunci dari pelajaran sains, ( BACA : Filosofi matematika sebagai ratu ilmu pengetahuan ), baik itu Ekonomi, Fisika, Akuntansi dan Kimia karena materi pelajaran tersebut tidak dapat dipahami tanpa mempelajari dasarnya yaitu matematika. Namun yang jadi permasalahan adalah bagaimana cara mudah belajar matematika? terkesan meremehkan :) sebenarnya tidak ada cara mudah dalam mempelajari pelajaran matematika yang ada adalah "Cara yang benar dalam belajar matematika". Dibutuhkan kesabaran serta kegigihan tinggi untuk berusaha, tapi dengan niat kuat saya yakin kita bisa menguasai matematika.