Fatamorgana Cinta
by Ba'id Aiziah
Angin berhembus menusuk hingga kedalam tubuh membuat tubuh
membeku kedinginan. Hery berjalan menuju mushollah diantara rindangnya
pohon-pohon yang tak henti-hentinya melambai-lambai kepadanya. Bel
berbunyi pertanda waktu masuk mushollah tinggal 5 menit lagi.
“kenapa?” Tanya jery teman hery.
“nggak ada apa-apa kok, cuman nggak kebiasa datang ke mushollah secepet ini.” balas hery.
“kirain lho dulu sekolah di SMP islam?”
“iya emang, tapi….di sekolah gue dulu nggak ada yang namanya sholat
subuh berjamaah. Dulu yang ada cuman sholat dhuhur berjamaah”
“oh, emang dulu sekolahnya nggak mondok?”
“nggak”
Hery pun mempercepat langkah ke mushollah. Ia berjalan bersama
dengan kedua temannya, James yang merupakan seorang muallaf dan Rasyid
yang merupakan temannya dari SMP. Tanpa mempedulikan dingin yang menusuk
hingga ke tulang- tulang, Mereka tetap berjalan secepat mungkin. Mereka
takut terlambat lagi ke mushollah.
Sesampainya di depan mushollah Hery melihat Ustadz Yusuf
sedang menjaga. Dengan sekuat tenaga ia menarik nafas dan berjalan
menuju mushollah. Melihat Hery sedang berjalan menuju mushollah Ustadz
Yusuf pun berjalan menghampiri Hery sambil membawa rotan.
“Kamu lagi kamu lagi, tiap kali saya mencatat bisa nggak nama kamu nggak ada?”
“Maaf ustadz saya tadi malam begadang”
“Makanya lain kali jangan begadang lagi. Sebagai hukuman, besok dan
seterusnya kamu yang mencatat ya? Saya tidak mau terima alasan apapun
jika kamu terlambat mencatat apalagi tidak mencatat!”
“Tapi ustadz….”
“Ah tidak ada…..saya tidak terima alasan apapun.”
“Baiklah ustadz”
***
James berjalan menghampiri Hery yang berada diujung selasar
sekolah. Ia heran melihat tingkah aneh Hery yang tiba-tiba menjadi
murung dan bermuka kusut tanpa sebab yang jelas.
“Lho kenapa Ry? Kok tiba-tiba muka lho jadi kusut gitu?”
“Gini nih James..gue rindu sama pacar gue Farah yang ada di Makassar,
terus gue juga pusing karena sekarang ini gue harus bisa datang cepet
ke mushollah soalnya gue dihukum mencatat orang yang terlambat datang”
“hahaha…. Makanya jangan keseringan terlambat…kalau punya waktu itu dimanfaatin sebaik mungkin”
“iya deh yang lho bilang itu bener…”
Bel pun berbunyi. Seluruh siswa pun berjalan menuju kelas
masing-masing. Namun berbeda dengan siswa lain, James dan Hery tetap
saja berdiri di ujung selasar sambil memandang indahnya perpaduan warna
antara pepohonan hijau dan warna-warni bunga-bunga yang ada di taman
sekolah. Tak lama kemudian terlihat beberapa guru yang membawa buku dan
berjalan menuju ke kelas mereka. Melihat hal itu, Hery dan James pun
mulai melangkahkan kakinya menuju ke kelas mereka.
***
Seusai sholat magrib, Hery langsung berjalan menuju kamarnya
dan berbaring diatas kasurnya yang empuk. Lama kelamaan ia mulai
memejamkan matanya dan mulai menuju kedunia mimpi. Namun tiba-tiba James
dan Rasyid datang sehingga Hery terbangun.
“Hary Hary Hary….!” Teriak James dan Rasyid.
“Ada apa? Ngebangunin gue aja” jawab Hery.
“Lho mau nggak naik ke loteng?”
“Buat apa? Buang-buang waktu aja. Mending gue tidur.”
“Anak-anak lagi buat acara di atas nih. Lho mau nggak? Diloteng pemandangannya indah lho..”
“Diatas banyak orang kan?”
“iya”
“Oke deh gue bakalan ikut sama lho berdua”
“Ya… gitu dong.. “
Hery, James, dan Rasyid pun berjalan menuju samping ranjang
susun dan mulai memanjat untuk naik keatas loteng. Sesampainya diatas
loteng ternyata sudah banyak orang yang berada di sana. Ada yang
ngumpul-ngumpul sambil makan cemilan, ada yang mengamati bintang dengan
bantuan buku-buku dan peta bintang, juga ada yang berbaring sambil
memandang indahnya langit malam yang bertaburkan bintang-bintang
ditemani dengan sinar bulan yang bersinar lembut.
“Ternyata disini seru juga ya?” kata Hery.
“kan gue udah bilang sama lho” balas Rasyid
Hery, James, dan Rasyid pun bergabung dengan teman kelas
mereka yang sudah duluan datang. Mereka berkumpul dan mulai mengumpulkan
makanan yang mereka bawa. Ada yang membawa roti, snack bahkan ada yang
membawa makanan berat. Setelah makan mereka pun menyayi bersama dan
berbaring sambil menikmati indahnya malam.
Keesokan harinya di mushollah, semua orang tampak serius
mengaji meskipun ada diantara mereka yang bercerita dan mulai
mengangguk-ngangguk pertanda mereka sudah mulai tertidur. Tampak seorang
anak berbaju putih memakai sarung biru dan berkopiah hitam mulai
mencatat orang-orang yang mulai tertidur. Tiba-tiba Ustadz Syam selaku
kepala sekolah di sekolah itu naik ke mimbar .
“Tadi malam saya pergi berkeliling ke asrama dan mendapati kalian
semua tidak ada di asrama. Kemudian saya mendengar suara ribut di loteng
dan amelihat salah satu orang memanjat naik keloteng. Untuk itu yang
merasa naik keloteng tadi malam silahkan mengumpulkan karu poinnya di
meja saya sekarang!”
“Baik pak”
Pak Syam pun berjalan meninggalkan mushollah. Kemudian disusul
oleh siswa-siswa yang mulai beranjak meninggalkan mushollah menuju
asrama untuk mengambil kartu poinnya.Tak sedikit yang mengumpulkan kartu
poinnya dikarenakan acara di loteng tadi malam telah direncanakan satu
minggu yang lalu. Hary termasuk salah satu orang yang naik ke loteng
sehingga ia pun juga harus mengumpulkan kartu poinnya.
***
Pagi yang cerah ditemani sejuknya embun pagi. Hery terlihat
berjalan menuju ke depan kamar ustadz Yusuf yang berada di ujung lorong
asrama. Tanpa ia sadari ternyata banyak pasang mata yang mengawasinya
dari dalam kamar.
“Lho mau kemana Ry?” Tanya Jery
“oh… Gue mau pergi menghadap ke Ustadz Yusuf” jawab Hery
“Mau ngapain lh..o kesana? Emangnya Lho dapet masalah?”
“Nggak, gue cuman mau mengkonfirmasi untuk jadi imam sholat ashar nanti”
“Tumben banget lho mau jadi imam?”’
“Gue mau jadi imam soalnya gue mau nambah poin gue yang berkurang gara-gara naik ke loteng tadi malam”
“Ya… gue kirain kenapa, dasar!!”
Sesampainya didepan kamar pak Yusuf, Hery pun menarik nafas dan mengetuk pintu kamar pak Yusuf.
“Hmm…siapa?” terdengar suara dari dalam kamar pak Yusuf.
“Saya pak, Hery”
“Oh Hery… masuk. Ada apa datang kemari?”
“Gini pak saya mau jadi imam sholat ashar nanti. Bisa nggak pak?”
“Oh silahkan. Setelah jadi imam nanti, kumpulkan kartu poin kamu diatas meja saya ya? ”
“Baik pak”
Hery pun keluar dari kamar pak Yusuf sambil tersenyum bahagia
karena kini poinnya dapat bertambah dan tidak lagi terancam mendapatkan
SP (Surat Peringatan) dari sekolah.
Malam harinya Hery dipanggil oleh pak Yusuf tanpa alasan yang
jelas. Sontak hal ini membuat Hery bertanya-tanya tentang apa yang telah
ia lakukan. Bukan hanya Hery yang bertanya-tanya akan hal itu kedua
sahabatnya juga bingung akan hal tersebut. Hery pun masuk ke kamar pak
Yusuf.
“Ada apa pak? Apakah saya punya salah?”
“Tidak saya cuma ingin kamu menjadi salah satu imam di mushollah ini,
karena cara imam kamu tadi lumayan bagus. Tidak cepat dan tidak lambat,
bagaimana kamu mau?”
“Kalau saya sih terserah pak”
“Bagus.”
Hery pun keluar dari kamar pak Hery sambil tersenyum bangga
sehingga semua mata tertuju padanya. Melihat Hery tersenyum James pun
menghampirinya.
“Kenapa lho? Kok senyum-senyum sendiri?”
“Lho tau nggak James, sekarang gue termasuk salah satu imam di mushollah”
“Kok bisa?”
“Katanya cara gue imam tadi bagus, jadinya gue dijadiin imam tetap di mushollah”
“Selamat ya Bro”
Hery pun berjalan meninggalkan James menuju ke kamarnya untuk tidur.
***
Hari demi hari telah berganti. Hery yang dulunya suka
terlambat kini telah berubah menjadi sesosok pemuda yang rajin
beribadah. Bukan hanya itu, Hery juga sudah mulai mempelajari dan
menghafal hadis-hadis. Banyak yang mengatakan kalau Ia mirip dengan
ustadz Kevin sehingga ia mulai mengikuti style ustadz Kevin.
Besok telah dimulai libur tengah semester pertama. Sehingga
sore harinya para siswa mulai packing-packing untuk pulang ke kampung
halaman masing-masing. Pada malam hari Osis akan mengadakan acara
Pensi.Pada acara Pensi itu semua siswa diwajibkan memakai pakaian ala
timur tengah. Hery pun menirukan cara berpakaian ustadz Kevin. Sontak
hal itu membuat seluruh siswa tertipu. Mereka mengira Hery adalah Ustadz
Kevin sehingga ketika Hery lewat semua siswa mundur sambil
tertunduk.Hery hanya bisa tertawa melihat semua tingkah teman kelasnya
bahkan kakak kelasnya yang tertunduk melihatnya berjalan. Orang
Paginya Hery bersama dengan Rasyid terlihat menunggu mobil
jemputan. Sambil menunggu mobil mereka mengobrol tentang kemana mereka
akan pergi berlibur.
“Her, Lho mau kemana sesampai di rumah lho nanti?”
“Nggak kemana-mana aja kok. Gue nanti cuman mau ke rumah Farah buat mutusin dia”
‘’kenapa?kok bisa”
“Gue rasa yang gue lakukan sama Farah itu udah kelewatan.”
“Jadi ceritanya lho udah mulai sadar?”
“Ya iyalah’’
Sesampainya di rumah Hery langsung menuju ke kamarnya dan langsung beristirat.
***
Hery berkelilig kota Makassar ditemani Rasyid dan kedua
sepupunya Fairus dan Rezky. Setelah puas berkeliling Hery mengajak
Fairus, Rezky Dan Rasyid untuk pergi ke rumah Farah.Setelah sampai Hery
mulai mengetuk pintu rumah Farah dan tak lama kemudian sebuah suara
perempuan terdengar dari dalam rumah.
“Siapa?”
“Ini saya Hery”
“Oh kamu Her..” kata Farah sambil keluar dari rumah.
“Apa kabar?” tanya Hery
“Baik. Kalau kamu bagaimana?”
“Baik kok. Gini aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Apa?”
“Aku fikir lebih baik hubungan kita diakhirin aja soalnya menurut aku
hubungan ini udah melewati batas” ,Perkataan Hery tersebut sontak
membuat Farah menangis.
“Tapi Her aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu Her. Selama kamu
pergi aku nggak pernah berhubungan dengan cowok lain. Demi kamu Her”
tutur Farah sambil menangis.
“Tapi itu semua ilusi nggak ada cinta didunia ini selain cinta karena Allah Far! Aku yakin kamu mencintaiku karena kelebihanku”
“Tidak Her, tidak! Aku tulus mencintai kamu”
“Sudahlah…ini yang terbaik bagi kita”
“Taapi…”
“Lebih baik sekarang kami pulang. Assalamualaikum”
“Her..Her…..”
Hery pun berjalan meninggalkan Farah menuju motornya. Kini
Hery telah benar-benar berubah dan ia berjanji akan lebih sering belajar
tentang agama dan tak ada siapapun yang ia cintai kecuali sang maha
pencipta…