Sabtu, 29 November 2014

cepen 'nak ar-rasyid

Liburan Pahit
by Zul Qayyimah Arifuddin
 
Liburan? Hmm,, Papi cepat sekali ingin menjemputku pulang ke rumah. Padahal, waktu libur tinggal beberapa hari lagi. Oh, aku tahu, mungkin saja papi tidak sabar menanti kehadiranku ngumpul bareng dengan keluarga tercinta. Atau mungkin, papi ingin aku pulang cepat agar aku bisa menikmati liburan ini. Hmm,, entahlah Tapi, candaanku berhenti seketika dan memikirkan hal aneh. “Oh, Tuhan. Mengapa ayah menyuruhku pulang ke rumah di tengah malam seperti ini? Ada apa gerangan?”. Hmm, kubenahi semua perlengkapan yang ingin kubawa pulang dan bergegas ke ruang tamu. Kupandang tiga orang dari kejauhan. Namun, aku masih bertanya tentang siapa orang ketiga itu. Orang pertama adalah Ust. Khaeruddin, selaku pembina asramaku, orang kedua adalah Pak Anwar, security di sekolah ini, sedangkan orang ketiga masih buram di pandanganku. Aku pun masih bertanya, di manakah papi yang kuharap kedatangannya untuk menjemputku? Tidak terdapat tanda apapun yang menandakan bahwa di sana ada papi, hanya ada mobil papi yang terparkir di samping orang itu. Hm,, entahlah.
Angin malam menyeret langkahku menuju ke ruang tamu dan menghampiri orang ke tiga yang kumaksud. Setelah mendekat, ternyata dia adalah omku, adik mamiku. Pikiranku melayang tertuju pada papi. Bahkan, perasaanku buruk mengenai papi di malam ini. Mengapa bukan papi yang menjemputku pulang? Ada apa dengan papi? Teringat kembali di hari kemarin, saat aku menelfon mami di asrama dan bercerita sedikit tentang kesehatan keluargaku di rumah, dan mami mengebarkan tentang kondisi papi yang tidak sehat. Hm,, kembali kukaitkan antara pikiranku dengan keadaan yang terjadi saai ini. mencoba untuk meraba kembali tentang apa yang terjadi. Senyum iba dari Ust. Khaeruddin memberikan kesan yang aneh di malam dingin ini. Kualihkan pandanganku pada Pak Anwar yang masih bersama kami, rupanya bukan hanya Ust. Khaeruddin yang memberikan sunggingan senyum bernuansa iba itu, tapi Pak Anwar pun demikian. “Hm,, aneh banget, sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Pa,, paa...piii?”, gumamku dalam hati. Lagi-lagi pikiranku mengarah ke papi dan tidak pernah lepas darinya.
Gelap malam ditemani dingin yang mencekam menambah suasana rasa penasaranku tentang apa yang terjadi dengan papi. Lama kami berbincang-bincang, akhirnya pembina asrama mengizinkan kami pulang. Kusimpan barang-barangku di bagasi mobil dan mengambil posisi duduk di bagian depan, tepatnya di samping omku itu. Suasana di dalam mobil terasa begitu kaku. Tak ada satu pun di antara kami yang berani tuk memulai pembicaraan. Hanya terdengar hembusan angin yang bergesekan dengan kendaraan kami. Bosan dengan suasana ini, aku mulai untuk melontarkan sesuatu dan bertanya tentang keadaan ayah yang menghantuiku sedari tadi.
“Ifir, bagaimana dengan kondisi papi? Mengapa bukan papi yang menjemputku?”, selidikku.
“Khm, ayahmu tidak mungkin bisa mengendarai mobil ini. Dia masih shok”, jawabnya dengan begitu tenang.
Kembali aku bermain di dalam pikiran dan mendalami satu kata yang telah diucapkan oleh pemuda yang berbadan tinggi ini, yaitu kata shok.
“Shok? Memangnya kenapa dan apa yang telah terjadi?”, tanyaku lagi.
Sambil mengusap air mata yang muncul di permukaan pipinya, pemuda yang berwajah gagah ini kembali menjawab pertanyaanku dengan nada basah,
“Bukan, bukan terjadi pada papimu, tapi adikmu, a..dik..mu meninggal”.
Mendengar kata “adikmu”, aku segera memotong pembicaraanya dan menanyakan tentang kabar Syawal, adikku. Kemudian, Ifir pun memberikan sedikit gambaran tentang kondisi Syawal saat ini. Meskipun ceritanya belum selesai, namun aku dapat dengan cepat menangkap apa yang ingin diucapkannya. Namun, aku tidak mau mendengar kata itu. Aku pun memotong pembicaraannya dengan teriakan histerisku di dalam mobil. Tidak, tidak sanggup aku kembali ke rumah karena kejadian yang sama sekali tidak kuharapkan. Tidak ingin rasanya aku melanjutkan perjalanan ini, aku bahkan tidak ingin mengetahui tentang apa sebenarnya yang telah terjadi di rumah.
Akhirnya, rasa penasaranku yang sejak tadi menghantuiku kini telah terjawab. Papi memang baik-baik saja, tapi sama saja. Begitu sulit bagiku tuk menerima hal ini. Syawal, yang selama ini telah mengajariku tentang arti hidup yang sebenarnya meski beliau masih bocah. Yah, kehidupannya yang penuh dengan kedewasaan itu membuatku iri melihatnya. Hm.. Oh, Tuhan.
Saat suara tangisku mereda, Aku tidak tahu harus berkata apa. Perasaan marah dan rindu tengah bercampur di dalam hatiku saat ini. Marahkarena tidak ada yang mengabarkan bahwa dua hari kemarin Syawal dirawat di rumah sakit, dan rindu karena saat ini aku begitu merindukan sosok malaikat kecil itu untuk berada di sampingku, namun semuanya terlambat. Pemuda berkulit hitam ini juga menceritakan tentang apa yang telah terjadi di kampungku, rumah oma. Ternyata, musibah juga menimpa mereka yang di kampung. Tante dan oma harus minggat dari halaman rumahnya sendiri karena diusir orang lain.
“Dasar, orang yang telah mengusir oma adalah orang yang tidak berpendidikan dan tidak berperikemanusiaan”, omelku.
Deras air mataku mengalir saat mendengar semua ujian dari Allah yang telah terjadi dalam waktu bersamaan ini. Cerita kesedihan ini mengantarkan kami sampai ke tujuan. Kubuka pintu rumahku dan tangis itu kembali pecah. Kakak dan adikku segera mendekap tubuhku dalam pelukannya dan berusaha untuk menenangkanku. Aku masih tidak percaya dengan kejadian ini, kali aja Syawal hanya tertidur dan bermimpi indah sehingga tidak ada yang bisa untuk membangunkannya. Atau mungkin, Syawal sedang berimajinasi dalam tidurnya sehingga sulit untuk dibangunkan. Lagi pula, saat ini masih tengah malam dan memang waktunya untuk tidur.
Kulangkahkan kaki menuju ruang tengah dan mendapati ibu sedang menangis di samping sosok mungil yang tubuhnya telah tertutupi kain. Aku belum sanggup menerima ini, dan belum berani untuk mendekat dengan ibu yang terlihat amat sakit. Lalu, kualihkan langkahku menuju kamar dan lagi-lagi mendapati sosok ibu yang baru melahirkan itu, yah tanteku juga sedang meneteskan air mata. Pun, kudapati oma yang sangat jelas matanya membengkak lantaran air mata yang tak berkesudahan juga. Aku tahu, mereka juga merasakan kesedihan yang teramat dalam. Selain karena kehilangan Syawal, mereka juga harus kehilangan tempat tinggal mereka.
Setelah itu, aku mencoba tuk memberanikan diri kembali menengok ibu yang masih terbaring lemas di samping buah hatinya. Aku juga memberanikan diri tuk membuka kain yang menutupi wajah Syawal. Subhanallah, ternyata, wajahnya begitu bersih, tidak lagi kudapatkan bintik-bintik biru di tubuhnya. Cahaya putih bagaikan menyelubungi wajah mungilnya, putih bersih. Kuperhatikan tubuh Syawal dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ternyata, Syawal bukan lagi bocah ingusan. Anak manis ini sudah gede. Oh, Tuhan, betapa sakitnya perasaan mami saat ini. Harus kehilangan buah hati untuk kedua kalinya setelah kepergian Kautsar, anak kedua beberapa tahun silam.
Masih jelas terekam dalam ingatan, saat pertama kali aku melihat Syawal lahir di dunia ini. Tubuhnya dipenuhi oleh bintik-bintik lebam seperti telah dipukuli. Tali pusarnya juga aneh, terus menerus mengeluarkan darah, tidak seperti bayi normal biasanya. Mamiku pun mencoba memeriksa ke dokter Ahmad Gasim, spesialis anak. Ternyata, Syawal menderita penyakit hemophilia. Penyakit ini tidak memiliki obat yang pasti, pasien hanya diberi suntikan vitamin K agar mampu membantu membekukan darah yang mengalir.
Meskipun dibesarkan dengan penyakit yang tidak remeh, bocah lucu ini tidak pernah menyerah untuk menjalani hidup. Aku salut dengan beliau, betapa tidak, penyakit ganas yang menghinggapi tubuhnya harus ditanggung sendiri olehnya. Aku tahu, begitu terganggu hidupnya, pun teramat sakit. Aku juga yakin bahwa aku tidak akan sanggup menjalani hidup dengan penyakit yang sedemikian parah. Sedangkan Syawal, sunggingan senyum di bibirnya tidak pernah lepas. Bahkan anak ini begitu kuat dan tetap tegar terhadap apa yang dia alami. Dokter yang menanganinya pun harus mengakui bahwa Syawal adalah anak yang hebat.
Kupandang papi yang air matanya telah menguap, tak lagi basah. Aku tahu apa yang ada dipikiran papi saat ini. Mengenang kisah yang telah lalu dan mustahil tuk kembali. Aku masih sangat ingat, bahwa Syawal satu-satunya anak papi yang berani tuk berangkat ke masjid untuk shalat subuh berjamaah meskipun harus sendirian. Syawal yang selalu membangunkan papi jika tiba waktu shalat subuh. Yah, shalat subuh. Waktu di mana para penghuni bumi masih terlelap dalam tidurnya dan lebih memilih kasur empuk ketimbang melangkahkan kaki menuju rumah Allah. Shalat lima waktu tidak pernah ia tinggali. Sangat takut jika salah satu shalat wajib itu tidak ia penuhi. Oh, iya, aku masih ingat cita-cita Syawal yang tidak ingin menjadi orang yang memiliki karir besar seperti profesi yang diidam-idamkan anak laki-laki lainnya, karena dia tahu tentang kehadiran penyakit yang menghinggapi tubuhnya tak akan mampu membuatnya hidup sehat sempurna. Seperti tentara, polisi atau yang lainnya. Syawal hanya ingin menjadi ustadz sang penghapal al qur’an, yang katanya akan memberikan syafaat di hari kiamat nanti. Ya Allah, sungguh cita-cita yang mulia.
Ketika Bulan Ramadhan, Syawal bertekad keras untuk berpuasa selama sebulan penuh, beliau selalu berusaha untuk tidak berkalah. Namun, takdir berkata lain. Hal itu tidak mungkin terjadi, karenan mami dan papi selalu saja mengkhawatirkan kondisi Syawal yang semakin hari semakin melemas. Memang sih, aku pun takut melihat kondisi Syawal ketika penyakitnya mulai kambuh. Bocah berkulit sawo matang ini harus bermain dengan cairan merah lagi jika waktunya telah tiba, dan darah itu terus mengalir dalam waktu yang cukup lama. Ngeri bercampur kasihan jika aku melihatnya, dan mulai membayangkan jika aku yang berada di posisinya. Aku juga masih ingat ketika hendak berbuka puasa, pasti adikku itu selalu ingin mengambil semua hidangan yang telah disajikan mami tercinta, dan sangat lucu karena setelah itu dia tidak bisa bergerak lantaran perut yang terisi penuh. Hahaha.. Syawal,, Syawal.
Namun, itu semua hanya tinggal kenangan. Kini, tidak lagi kulihat senyum mungil dari wajah bocah imut itu. Aku hanya bisa berdo’a agar dipertemukan di tempat terindah di sisi sang pencipta. Bahkan, di hari ini, aku ingin sekali bertemu kembali dengannya walau hanya sekejap. Yah, sekejap.
Teringat kembali saat pertama kali aku dijemput di tengah malam yang begitu dingin. Terkaan pertama adalah merasa bahagia karena menurutku papi tidak sabar menanti kehadiranku untuk berada di tengah-tengah kumpulan keluarga. Aku juga berpikir bahwa papi menjemputku agar aku bisa liburan bersama mereka, dan menikmatinya dengan suasana kebahagiaan. Tapi ternyata salah, aku salah dalam menerka semua ini. Bahkan, realita yang terjadi bahwa semuanya berbanding terbalik dengan apa yang telah kupikir sebelumnya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, karena apa yang terjadi di hari ini sama sekali tidak kuminta dan tidak akan pernah kuharapkan. Oh, Tuhan. Izinkan aku meluapkan perasaanku lewat air mata yang tengah berurai ini.
Di balik tirai jendela, dengan ditemani tarian pangeran katak dan nyanyian jangkrik kumencoba merenungi setiap episode-episode saat bersamanya. Namun hampa, ingatan ini hanya membuatku kembali meneteskan bulir-bulir air hangat dari bola mataku. Tuhan, jika boleh, izinkan aku bertemu dengan adinda tercinta dalam mimpiku malam ini. Aku benar-benar merindukan sosoknya hadir bersamaku. “Aah, lebih baik aku tidur daripada terus menangisi malaikat kecil itu, toh tangisanku tidak akan mampu tuk membuatnya kembali. Bismillahirrahmaanirrahiim, bismikallahumma ahyaa wabismika amuut.” Kututup kisahku di hari ini dengan lantunan do’a serta berharap untuk bisa bertemu dengan adinda tercinta, Syawal. Selamat tinggal adinda sayang, tenang di alam sana yah, engkau akan menolong papi mami di hari akhirat kelak”, tutupku tatkala mataku terpejam.
Para pembaca yang budiman, mari belajar dari kisah Syawal yang digambarkan dalam cerita ini. Tak pernah menyerah walau harus menahan sakit yang dideritanya. Penyakit ganas yang tidak banyak orang bisa bertahan dalam waktu kurang lebih sepuluh tahun. Sunggingan senyum yang tidak pernah pudar dari bibir manis malaikat kecil ini. Tetap semangat dan selalu setia dalam melangkahkan kaki menuju kebaikan, juga tak pernah takut untuk berjalan di pagi buta meski melangkah hanya seorang diri demi mencapai keutamaan shalat subuh berjamaah di masjid. Cita-citanya yang ingin selalu menjadi hafidz, mengahapal sembari memahami ayat-ayat Allah. Yah, mungkin banyak di antara kita yang selalu lalai dalam melaksanakan ibadah yang seharusnya wajib kita kerjakan. Atau mungkin, kita selalu mengeluh dan tidak pernah sabar tatkala ujian Allah datang menimpa kita. Olehnya itu, cerita ini hadir memberikan dorongan untuk teman-teman sekalian agar tetap semangat dalam menapaki episode-episode kehidupan yang begitu rumit ini.
SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar