Sabtu, 29 November 2014

cerpen 'nak ar-rasyid

Fatamorgana Cinta
by Ba'id Aiziah
 
      Angin berhembus menusuk hingga kedalam tubuh membuat tubuh membeku kedinginan. Hery berjalan menuju mushollah diantara rindangnya pohon-pohon yang tak henti-hentinya melambai-lambai kepadanya. Bel berbunyi pertanda waktu masuk mushollah tinggal 5 menit lagi.
“kenapa?” Tanya jery teman hery.
“nggak ada apa-apa kok, cuman nggak kebiasa datang ke mushollah secepet ini.” balas hery.
“kirain lho dulu sekolah di SMP islam?”
“iya emang, tapi….di sekolah gue dulu nggak ada yang namanya sholat subuh berjamaah. Dulu yang    ada cuman sholat dhuhur berjamaah”
“oh, emang dulu sekolahnya nggak mondok?”
“nggak”
       Hery pun mempercepat langkah ke mushollah. Ia berjalan bersama dengan kedua temannya, James yang merupakan seorang muallaf dan Rasyid yang merupakan temannya dari SMP. Tanpa mempedulikan dingin yang menusuk hingga ke tulang- tulang, Mereka tetap berjalan secepat mungkin. Mereka takut terlambat lagi ke mushollah.
       Sesampainya di depan mushollah Hery melihat Ustadz Yusuf sedang menjaga. Dengan sekuat tenaga ia menarik nafas dan berjalan menuju mushollah. Melihat Hery sedang berjalan menuju mushollah Ustadz Yusuf pun berjalan menghampiri Hery sambil membawa rotan.
“Kamu lagi kamu lagi, tiap kali saya mencatat bisa nggak nama kamu nggak ada?”
“Maaf ustadz saya tadi malam begadang”
“Makanya lain kali jangan begadang lagi. Sebagai hukuman, besok dan seterusnya kamu yang mencatat ya? Saya tidak mau terima alasan apapun jika kamu terlambat mencatat apalagi tidak mencatat!”
“Tapi ustadz….”
“Ah tidak ada…..saya tidak terima alasan apapun.”
“Baiklah ustadz”
***
       James berjalan menghampiri Hery yang berada diujung selasar sekolah. Ia heran melihat tingkah aneh Hery yang tiba-tiba menjadi murung dan bermuka kusut tanpa sebab yang jelas.
“Lho kenapa Ry? Kok tiba-tiba muka lho jadi kusut gitu?”
“Gini nih James..gue rindu sama pacar gue Farah yang ada di Makassar, terus gue juga pusing karena sekarang ini gue harus bisa datang cepet ke mushollah soalnya gue dihukum mencatat orang yang terlambat datang”
“hahaha…. Makanya jangan keseringan terlambat…kalau punya waktu itu dimanfaatin sebaik mungkin”
“iya deh yang lho bilang itu bener…”
       Bel pun berbunyi. Seluruh siswa pun berjalan menuju kelas masing-masing. Namun berbeda dengan siswa lain, James dan Hery tetap saja berdiri di ujung selasar sambil memandang indahnya perpaduan warna antara pepohonan hijau dan warna-warni bunga-bunga yang ada di taman sekolah. Tak lama kemudian terlihat beberapa guru yang membawa buku dan berjalan menuju ke kelas mereka. Melihat hal itu, Hery dan James pun mulai melangkahkan kakinya menuju ke kelas mereka.
 ***
       Seusai sholat magrib, Hery langsung berjalan menuju kamarnya dan berbaring diatas kasurnya yang empuk. Lama kelamaan ia mulai memejamkan matanya dan mulai menuju kedunia mimpi. Namun tiba-tiba James dan Rasyid datang sehingga Hery terbangun.
“Hary Hary Hary….!” Teriak James dan Rasyid.
“Ada apa? Ngebangunin gue aja” jawab Hery.
“Lho mau nggak naik ke loteng?”
“Buat apa? Buang-buang waktu aja. Mending gue tidur.”
“Anak-anak lagi buat acara di atas nih. Lho mau nggak? Diloteng pemandangannya indah lho..”
“Diatas banyak orang kan?”
“iya”
“Oke deh gue bakalan ikut sama lho berdua”
“Ya… gitu dong.. “
       Hery, James, dan Rasyid pun berjalan menuju samping ranjang susun dan mulai memanjat untuk naik keatas loteng. Sesampainya diatas loteng ternyata sudah banyak orang yang berada di sana. Ada yang ngumpul-ngumpul sambil makan cemilan, ada yang mengamati bintang dengan bantuan buku-buku dan peta bintang, juga ada yang berbaring sambil memandang indahnya langit malam yang bertaburkan bintang-bintang ditemani dengan sinar bulan yang bersinar lembut.
“Ternyata disini seru juga ya?” kata Hery.
“kan gue udah bilang sama lho” balas Rasyid
       Hery, James, dan Rasyid pun bergabung dengan teman kelas mereka yang sudah duluan datang. Mereka berkumpul dan mulai mengumpulkan makanan yang mereka bawa. Ada yang membawa roti, snack bahkan ada yang membawa makanan berat. Setelah makan mereka pun menyayi bersama dan berbaring sambil menikmati indahnya malam.
       Keesokan harinya di mushollah, semua orang tampak serius mengaji meskipun ada diantara mereka yang bercerita dan mulai mengangguk-ngangguk pertanda mereka sudah mulai tertidur. Tampak seorang anak berbaju putih memakai sarung biru dan berkopiah hitam mulai mencatat orang-orang yang mulai tertidur. Tiba-tiba Ustadz Syam selaku kepala sekolah di sekolah itu naik ke mimbar .
“Tadi malam saya pergi berkeliling ke asrama dan mendapati kalian semua tidak ada di asrama. Kemudian saya mendengar suara ribut di loteng dan amelihat salah satu orang memanjat naik keloteng. Untuk itu yang merasa naik keloteng tadi malam silahkan mengumpulkan karu poinnya di meja saya sekarang!”
“Baik pak”
       Pak Syam pun berjalan meninggalkan mushollah. Kemudian disusul oleh siswa-siswa yang mulai beranjak meninggalkan mushollah menuju asrama untuk mengambil kartu poinnya.Tak sedikit yang mengumpulkan kartu poinnya dikarenakan acara di loteng tadi malam telah direncanakan satu minggu yang lalu. Hary termasuk salah satu orang yang naik ke loteng sehingga ia pun juga harus mengumpulkan kartu poinnya.
***
       Pagi yang cerah ditemani sejuknya embun pagi. Hery terlihat berjalan menuju ke depan kamar ustadz Yusuf yang berada di ujung lorong asrama. Tanpa ia sadari ternyata banyak pasang mata yang mengawasinya dari dalam kamar.
“Lho mau kemana Ry?” Tanya Jery
“oh… Gue mau pergi menghadap ke Ustadz Yusuf” jawab Hery
“Mau ngapain lh..o kesana? Emangnya Lho dapet masalah?”
“Nggak, gue cuman mau mengkonfirmasi untuk jadi imam sholat ashar nanti”
“Tumben banget lho mau jadi imam?”’
“Gue mau jadi imam soalnya gue mau nambah poin gue yang berkurang gara-gara naik ke loteng tadi   malam”
“Ya… gue kirain kenapa, dasar!!”
        Sesampainya didepan kamar pak Yusuf, Hery pun menarik nafas dan mengetuk pintu kamar pak Yusuf.
“Hmm…siapa?” terdengar suara dari dalam kamar pak Yusuf.
“Saya pak, Hery”
“Oh Hery… masuk. Ada apa datang kemari?”
“Gini pak saya mau jadi imam sholat ashar nanti. Bisa nggak pak?”
“Oh silahkan. Setelah jadi imam nanti, kumpulkan kartu poin kamu diatas meja saya ya? ”
“Baik pak”
       Hery pun keluar dari kamar pak Yusuf sambil tersenyum bahagia karena kini poinnya dapat bertambah dan tidak lagi terancam mendapatkan SP (Surat Peringatan) dari sekolah.
       Malam harinya Hery dipanggil oleh pak Yusuf tanpa alasan yang jelas. Sontak hal ini membuat Hery bertanya-tanya tentang apa yang telah ia lakukan. Bukan hanya Hery yang bertanya-tanya akan hal itu kedua sahabatnya juga bingung akan hal tersebut. Hery pun masuk ke kamar pak Yusuf.
“Ada apa pak? Apakah saya punya salah?”
“Tidak saya cuma ingin kamu menjadi salah satu imam di mushollah ini, karena cara imam kamu tadi lumayan bagus. Tidak cepat dan tidak lambat, bagaimana kamu mau?”
“Kalau saya sih terserah pak”
“Bagus.”

       Hery pun keluar dari kamar pak Hery sambil tersenyum bangga sehingga semua mata tertuju padanya. Melihat Hery tersenyum James pun menghampirinya.
“Kenapa lho? Kok senyum-senyum sendiri?”
“Lho tau nggak James, sekarang gue termasuk salah satu imam di mushollah”
“Kok bisa?”
“Katanya cara gue imam tadi bagus, jadinya gue dijadiin imam tetap di mushollah”
“Selamat ya Bro”
       Hery pun berjalan meninggalkan James menuju ke kamarnya untuk tidur.
***
       Hari demi hari telah berganti. Hery yang dulunya suka terlambat kini telah berubah menjadi sesosok pemuda yang rajin beribadah. Bukan hanya itu, Hery juga sudah mulai mempelajari dan menghafal hadis-hadis. Banyak yang mengatakan kalau Ia mirip dengan ustadz Kevin sehingga ia mulai mengikuti style ustadz Kevin.
       Besok telah dimulai libur tengah semester pertama. Sehingga sore harinya para siswa mulai packing-packing untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Pada malam hari Osis akan mengadakan acara Pensi.Pada acara Pensi itu semua siswa diwajibkan memakai pakaian ala timur tengah. Hery pun menirukan cara berpakaian ustadz Kevin. Sontak hal itu membuat seluruh siswa tertipu. Mereka mengira Hery adalah Ustadz Kevin sehingga ketika Hery lewat semua siswa mundur sambil tertunduk.Hery hanya bisa tertawa melihat semua tingkah teman kelasnya bahkan kakak kelasnya yang tertunduk melihatnya berjalan. Orang
       Paginya Hery bersama dengan Rasyid terlihat menunggu mobil jemputan. Sambil menunggu mobil mereka   mengobrol tentang kemana mereka akan pergi berlibur.
“Her, Lho mau kemana sesampai di rumah lho nanti?”
“Nggak kemana-mana aja kok. Gue nanti cuman mau ke rumah Farah buat mutusin dia”
‘’kenapa?kok bisa”
“Gue rasa yang gue lakukan sama Farah itu udah kelewatan.”
“Jadi ceritanya lho udah mulai sadar?”
“Ya iyalah’’
                      Sesampainya di rumah Hery langsung menuju ke kamarnya dan langsung beristirat.
***
       Hery berkelilig kota Makassar ditemani Rasyid dan kedua sepupunya Fairus dan Rezky. Setelah puas berkeliling Hery mengajak Fairus, Rezky Dan Rasyid untuk pergi ke rumah Farah.Setelah sampai Hery mulai mengetuk pintu rumah Farah dan tak lama kemudian sebuah suara perempuan terdengar dari dalam rumah.
“Siapa?”
“Ini saya Hery”
“Oh kamu Her..” kata Farah sambil keluar dari rumah.
“Apa kabar?” tanya Hery
“Baik. Kalau kamu bagaimana?”
“Baik kok. Gini aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Apa?”
“Aku fikir lebih baik hubungan kita diakhirin aja soalnya menurut aku hubungan ini udah melewati batas” ,Perkataan Hery tersebut sontak membuat Farah menangis.
“Tapi Her aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu Her. Selama kamu pergi aku nggak pernah berhubungan dengan cowok lain. Demi kamu Her” tutur Farah sambil menangis.
“Tapi itu semua ilusi nggak ada cinta didunia ini selain cinta karena Allah Far! Aku yakin kamu mencintaiku karena kelebihanku”
“Tidak Her, tidak! Aku tulus mencintai kamu”
“Sudahlah…ini yang terbaik bagi kita”
“Taapi…”
“Lebih baik sekarang kami pulang. Assalamualaikum”
“Her..Her…..”
       Hery pun berjalan meninggalkan Farah menuju motornya. Kini Hery telah benar-benar berubah dan ia berjanji akan lebih sering belajar tentang agama dan tak ada siapapun yang ia cintai kecuali sang maha pencipta…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar