Rabu, 09 Desember 2015

cerpen nak Ar-Rasyid



Everything Has Changed

 By Evha Nurhasanah

‘Cauze, All I knw is we said hello, and your eyes look like cooming home, oh I know is a simple name yeah, Everything Has Changed. All I know is you held the door, and you’ll be mind and I’ll be yours, oh I know since yesterday yeah, Everything Has Changed’
            Lagu  yang mengingatkanku pada satu kenangan yang tak akan kulupakan semur hidupku. Semua hal seakan terengat kembali dalam buaian rindu yang menceekam.Tawa, bahagia, tangis, dan lontaran ejekan seakanmenderu di otakku.Mungkin tak semua pilihan sesuai dengan harapan.Ini merupakan pilihan yang harus aku pikul.Penyesalan memang selalu berada di akhir. Tapi, mau apa lagi? Semuanya telah berubah, seperti sepenggal lagu yang begitu yang teruntai bak alken kenangan.Everything Has Changed.
                        *
    Kelas Empat. Itulah awal aku merasakan  yang namanya bolos hingga keluar area sekolah. Hari itu adalah hari paling menyebalkan.Yah, Pelajaran PAI selalu membuatku merasa bosan dan kantuk.Begitu juga dengan temanku yang lainnya.Gurunya pun mengajar bak mendongeng sebelum tidur.Lima belas menit telah berlalu, membuat rasa kantuk ini semakin menjadi-jadi.Sesaat aku meraskan tepukan di pundakku.Aku menoleh, dan melihat secarik kertas dari Yudistirana, temanku yang duduk di belakangku. ‘hari ini adalah hari yang paling membosankan, bolos yuk !!’ itulah kalimat yang disampaikan dari temanku itu. Aku pun menjawabnya ‘Coba ajak teman yang lainnya’. ‘Aku sudah tanya teman yang lain, ayolah kita coba bolos keluar area sekolah’ tulisnya lagi. ‘Bolos keluar area sekolah??? Gak salah nih ??’ tulisku dengan terperanga. ‘Iyalah, gak bosan bolos di area sekolah mulu?Ayolah, kita izin ke wc selepas itu kita tunggu teman-teman yang lainnya di gerbang belakang sekolah’.Bolos, merupakan rutinitas yang sering kulakukan bersama teman-temanku apabila kami malas ataupun pelajaran hari itu membosankan.Tetapi kalau masalah bolos sampai keluar area sekolah??Mungkin temanku sudah tidak waras hari ini (mungkin guru PAI ku mendongeng sampai tingkat dewa hehe). Setelah berpikir sesaat, aku pun izin ke wc dengan Tira.
“kamu tau, kayaknya rencana kita berjalan sempurna karena guru-guru meeting mendadak dengan pimpinan mangkura” kata Farhan, ketua kelasku sekaligus cowok paling nakal, cakep, dan pintar di kelasku. Yah, sangatlah beruntung, karena hari ini guru-guru sedang melaksanakan meeting mendadak bersama para pimpinan mangkura, jadi saya dan teman-teman tak perlu merasa takut untuk melaksanakan rutinitas ini.
“Mau kemana kita?”tanyaku.
“ayo kita jalan-jalan ke Pantai Losari, masalah pete-pete nanti aku yang tanggung” kata Sasmitha. Pete-pete adalah angkutan favorite semua orang teruitama para pelajar.
“Naik Taxi kek, yang lebih elite dong !!” sanggah Indah.
“Kalau kamu mau sewa bayar 10 taxi, gak masalah kok” Kata Mitha tak kalah.
“Naik pete-pete aja soalnya kita ini banyak, pete-petekan lebih irit uang juga” kata Ari.Setelah sepakat, kita pun naik pete-pete. Cukup susah untuk cari pete-pete yang kosong karena kita tak ingin berpisah. Kira-kira perjalanan hanyalah sepuluh menit, karena Pantai Losari sangat dekat dengan sekolahku terlebih jalanan juga sedang tidak macet.
            Hembusan angin yang sangat sejuk ini menerpa diriku.Ini adalah pengalaman yang mungkin tidak bisa aku lupakan dalam hidupku, kataku dalam hati.Tepukan Azizah membuatku terbangun dari lamunanku.
“Guys, Take a picture yukss” kata Qanita dengan lebaynya. Setelah foto 1000 gaya di 1000 sudut, Fadel pun mengajak kami memancing. Biaya pancingannya cukup murah, hanya duaribu per pancing beserta udang-udang kecil.Karena kami 10 orang sedangkan pancingannya hanya enam jadi terpaksa aku, Tira Farhan, dan Ari menunggu giliran untuk memancing. Tapi kami tidak marah, justru kami mencari aktivitas lain yaitu foto-foto juga sewa scooter. Tak terasa waktu telah menunjukan pukul empat sore. Seketika, aku dan teman-teman bingung karena tidak tau mau pulang naik apa. Kembali kesekolah, rasanya tak mungkin karena mungkin angkutan antar jemput sudah berangkat sedari tadi. Ingin minta orang tua yang jemput, rasanya lebih tak mungkin lagi takut di marahi oleh orang tua. “Kita pulangnya jalan kaki aja yuk !” kata Farhan. Kayaknya temanku yang satu ini sudah gila deh.Setelah lelah menunggu nasib, kita semua pun memutuskan untuk naik pete-pete aja, meskipun sebagian temanku takut dimarahi orang tua, tapi itulah konsekuensi yang harus di terima. Untung saja rumahku didalam kompkleks, jadinya orang tuaku tak akan bisa melihatku. Tapi masalahnya, rumahku cukup jauh.Karena takut aku pun minta dijemput oleh Agung, kakak sepupuku.Karena takut Agung melapor dengan orang tuaku, terpaksa aku harus mentraktirnya makan es krim di Macdonalds.Huft, sepuluh ribu telah melayang, tapi tak apalah demi menjaga perbuatanku ini.
“Dari mana, kok baru pulang?” tanya mamaku sesampainya aku di rumah.
“Dari Pantai Losari same teman-teman” kataku.
            Capek tapi senang.Langsung saja aku rindu dengan temantemanku.Kulihat kembali foto-fotoku bersama mereka.Tak terasa aku pun terlelap dan bermimpi tentang kejadian yang telah aku alami tadi.Keesokan harinya, nyaris saja aku terlambat.Untung saja Om Tiro, supir antar jemput sekolahku sabar menungguku.Dengan santainya aku berjalan menuju kelas.Tak sabar rasanya aku ingin memamerkan foto-fotoku kemarin dengan tman-teman yang tak sempat pergi.Tapi, tak sampai niatku itu terwujud aku pun melihat beberapa muka temanku yang masam.
“Ada apa nih, tumben gak ceria?” tanyaku pada Azizah.
“kita semua dipanggil ke ruang kepala sekolah, kita semua takut!” Kata Azizah yang sedikit lagi mitikkan air matanya.Setelah mendengar Azizah berkata, aku merasa Down.Bagaimana tidak, bolos sampai keluar area sekolah bukanlah perkara yang gampang.
Sudahlah Azizah, kan kita sudah pernah di panggil ke ruang kepala sekolah, amasa takut sih” kata Farhan menenangkan.
“ Tapi, kita ini sudah bolos sampai keluar area sekolah, akau takut Far nanti orang tua kita dipanggil kesekolah” Kata Azizah yang sudah tak dapat menahan air matanya.
“Tenang kok, ada Evha, dia kan cucunya kepala sekolah, aku rasa mungkin dia bisa membujuk bu kepsek” kata Ari lagi.
“Tapi Ri, aku rasa ini bukanlah hal yang gampang, bolos sampai keluar area sekolah pada saat mata pelajaran bukanlah perkara yang gampang” kataku putus asa.
            Lonceng sudah berbunyi.Saatnya kami menuju ke ruang kepala sekolah.Sesampainya didepan pintu ruang kepala sekolah, taka da yang ingin masuk duluan.Kami semua takut.Tapi, semakin lama kami berdiri di sini maka mungkin kepala sekolah aka semakin marah karena kami telah melanggar waktu yang ditentukan olehnya.Karena semua teman menunjukku untuk masuk duluan, akhiranya pasrah sajalah aku. Kami semua di suruh berdiri di depan meja sang kepala sekolah.
“Kemarin, dari mana kalian semua?” Kata Kepsek.
“Kami dari Pantai Losari bu” kata Farhan.
“kenapa kalian kesana, bukannya itu adalah hal yang melanggar aturan sekolah, pada saat mata pelajaran lagi!” kata bu kepsek meluncak.
“karena, guru-guru juga sedang meeting bu dan kami juga bosan kami memutuskan untuk pergi bu” kata Farhan lagi.
“Kalian ini betul-btul, kalian tau sudah dari dulu kalian memang selalu bolos, entah hukuman apalagi yang bisa ibu berikan agar kalian tidak bolos lagi.Mungkin dengan memanggil orang tua kalian dan juga memberi kalian surat peringatan kalian akan sadar dan tidak akan mengulangi prbuatan kalian lagi” ancam kepsek.
“Jangan Ummi, tak kasihan kah anda melihatku dimarahi oleh mamiku, ku rasa engkau adalah keluarga yang bisa mengerti aku ummi” kataku memohon
“Tapi perbuatanmu sudah kelewatan nak, aku tidak ingin kalian akan begini terus, bisa-bisa mangkura V akan mendapat teguran dari pimpinan”
“Tapi Ummi, kemarin kami bolos juga pada saat pelajaran sedang tidak berlangsung Ummi, Kami mohon Ummi, jangan panggil orang tua kami” kataku menangis.Tak terasa aku teringat dengan orang tuaku di rumah.
“Tapi, apakah ada peraturan yang mengatakan apabila mata pelajaran kosong boleh bolos, begitu? Apakah kalian tidak berpikir kalau sangat besar konsekuensi yang saya tanggung kalau terjadi apa-apa sama kalian” kata kepsek marah.
“Kami semua minta maaf bu” kata Farhan memelas.
“Dari dulu kalian selalu bermasalah, meskipun hukuman selalu saya berikan kalian masih tetap saja tak jera. Apa yang kalian minta, hah?”.Kami semua tak dapat berkutik lagi.Memang perbuatan kami ini sangatlah kelewat batas.Bayangkan saja, taka da seorang siswa pun yang pernah melakukan hal seperti ini.
“Silahkan tulis nomor telepon orang tua kalian disini”kata bu kepsek menyerahkan kertas kosong dan sebuah pulpen.
“Bu, kami mohon bu tolong bu tolong sekali jangan panggil orang tua kami.” Kata Azizah terisak dengan kerasnya.
“Maaf, ibu sudah tidak bisa menangani kalian ini, biarlah Pak Romi yang menangani kalian” kata bu kepsek menyerah.Kemudian bu kepsek mengambil telepon genggamnya dan menelpon Pak Romi.Akhirnya ada sedikit kelegaan di hatiku dan di hati teman-temanku, tapi meskipun demikian tetap saja kami dihadapkan dengan guru paling killer dan kejam di sekolah.Sesaat Pak Romi pun datang dan mulai berdiskusi dengan Bu kepsek.
Setelah berpikir sejenak dan memilah-milah mana hukuman yang cocok untuk kami, kepsek  dan Pak Romi pun memutuskan untuk menjemur kami sampai jam sepuluh. Awalnya kami di jemur hanya sepuluh orang rupanya sebelas orang temanku juga menyusul untuk di jemur sampai jam sepuluh juga, hanya empat belas orang yang tidak memperdulikan kami same sekali.Tapi, jangan salah dulu, ini bukanlah akhir dari rutinitas kami.Rutinitas kami tersebut berlanjut sampai aku kelas V, karena kelas V adalah waktu terakhir aku bersekolah di SD Mangkura khususnya Mangkura V.Ini merupakan pengalaman yang tidak bisa aku lupakan. Pengalaman yang sampai sekarang tak ada yang bisa menggantikannya sebagai pengalaman terhebat. Aku merasa seperti orang yang paling hebat dan beruntung.Punya dua puluh satu sahabat yang sangat menyayangiku.Tapi, entahlah sampai kapan aku bisa merasakan kehangatan dan kebahagiaan seperti ini.
*
            Hidup memang tak selamanya indah.Kadang sedih kadang tawa.Semuanya beradu dalam lika-liku kehidupan ini.Tak semua kenangan dapat terulang kembali.Pepatah mengatakan kalau semakin indah kenangan yang kita punya maka semakin sulit untuk dapat terulang. Tapi, meskipun kenangan ini tak dapat terulang, aku yakin bahwa masih ada peristiwa yang lebih indah dan akan menjadi kenangan yang lebih indah daripada apapun.