Everything Has Changed
By Evha Nurhasanah
‘Cauze, All I knw is we said hello,
and your eyes look like cooming home, oh I know is a simple name yeah,
Everything Has Changed. All I know is you held the door, and you’ll be mind and
I’ll be yours, oh I know since yesterday yeah, Everything Has Changed’
Lagu yang
mengingatkanku pada satu kenangan yang tak akan kulupakan semur hidupku. Semua
hal seakan terengat kembali dalam buaian rindu yang menceekam.Tawa, bahagia,
tangis, dan lontaran ejekan seakanmenderu di otakku.Mungkin tak semua pilihan
sesuai dengan harapan.Ini merupakan pilihan yang harus aku pikul.Penyesalan
memang selalu berada di akhir. Tapi, mau apa lagi? Semuanya telah berubah, seperti
sepenggal lagu yang begitu yang teruntai bak alken kenangan.Everything Has Changed.
*
Kelas Empat. Itulah
awal aku merasakan yang namanya bolos hingga
keluar area sekolah. Hari itu adalah hari paling menyebalkan.Yah, Pelajaran PAI
selalu membuatku merasa bosan dan kantuk.Begitu juga dengan temanku yang
lainnya.Gurunya pun mengajar bak mendongeng sebelum tidur.Lima belas menit
telah berlalu, membuat rasa kantuk ini semakin menjadi-jadi.Sesaat aku meraskan
tepukan di pundakku.Aku menoleh, dan melihat secarik kertas dari Yudistirana,
temanku yang duduk di belakangku. ‘hari ini adalah hari yang paling
membosankan, bolos yuk !!’ itulah kalimat yang disampaikan dari temanku itu.
Aku pun menjawabnya ‘Coba ajak teman yang lainnya’. ‘Aku sudah tanya teman yang
lain, ayolah kita coba bolos keluar area sekolah’ tulisnya lagi. ‘Bolos keluar
area sekolah??? Gak salah nih ??’ tulisku dengan terperanga. ‘Iyalah, gak bosan
bolos di area sekolah mulu?Ayolah, kita izin ke wc selepas itu kita tunggu
teman-teman yang lainnya di gerbang belakang sekolah’.Bolos, merupakan
rutinitas yang sering kulakukan bersama teman-temanku apabila kami malas
ataupun pelajaran hari itu membosankan.Tetapi kalau masalah bolos sampai keluar
area sekolah??Mungkin temanku sudah tidak waras hari ini (mungkin guru PAI ku
mendongeng sampai tingkat dewa hehe). Setelah berpikir sesaat, aku pun izin ke
wc dengan Tira.
“kamu tau, kayaknya
rencana kita berjalan sempurna karena guru-guru meeting mendadak dengan
pimpinan mangkura” kata Farhan, ketua kelasku sekaligus cowok paling nakal,
cakep, dan pintar di kelasku. Yah, sangatlah beruntung, karena hari ini
guru-guru sedang melaksanakan meeting mendadak bersama para pimpinan mangkura,
jadi saya dan teman-teman tak perlu merasa takut untuk melaksanakan rutinitas
ini.
“Mau kemana
kita?”tanyaku.
“ayo kita jalan-jalan
ke Pantai Losari, masalah pete-pete nanti aku yang tanggung” kata Sasmitha.
Pete-pete adalah angkutan favorite semua orang teruitama para pelajar.
“Naik Taxi kek, yang
lebih elite dong !!” sanggah Indah.
“Kalau kamu mau sewa
bayar 10 taxi, gak masalah kok” Kata Mitha tak kalah.
“Naik pete-pete aja
soalnya kita ini banyak, pete-petekan lebih irit uang juga” kata Ari.Setelah
sepakat, kita pun naik pete-pete. Cukup susah untuk cari pete-pete yang kosong
karena kita tak ingin berpisah. Kira-kira perjalanan hanyalah sepuluh menit,
karena Pantai Losari sangat dekat dengan sekolahku terlebih jalanan juga sedang
tidak macet.
Hembusan angin yang sangat sejuk ini menerpa diriku.Ini
adalah pengalaman yang mungkin tidak bisa aku lupakan dalam hidupku, kataku
dalam hati.Tepukan Azizah membuatku terbangun dari lamunanku.
“Guys, Take a picture
yukss” kata Qanita dengan lebaynya. Setelah foto 1000 gaya di 1000 sudut, Fadel
pun mengajak kami memancing. Biaya pancingannya cukup murah, hanya duaribu per
pancing beserta udang-udang kecil.Karena kami 10 orang sedangkan pancingannya
hanya enam jadi terpaksa aku, Tira Farhan, dan Ari menunggu giliran untuk
memancing. Tapi kami tidak marah, justru kami mencari aktivitas lain yaitu
foto-foto juga sewa scooter. Tak
terasa waktu telah menunjukan pukul empat sore. Seketika, aku dan teman-teman
bingung karena tidak tau mau pulang naik apa. Kembali kesekolah, rasanya tak
mungkin karena mungkin angkutan antar jemput sudah berangkat sedari tadi. Ingin
minta orang tua yang jemput, rasanya lebih tak mungkin lagi takut di marahi
oleh orang tua. “Kita pulangnya jalan kaki aja yuk !” kata Farhan. Kayaknya
temanku yang satu ini sudah gila deh.Setelah lelah menunggu nasib, kita semua
pun memutuskan untuk naik pete-pete aja, meskipun sebagian temanku takut
dimarahi orang tua, tapi itulah konsekuensi yang harus di terima. Untung saja
rumahku didalam kompkleks, jadinya orang tuaku tak akan bisa melihatku. Tapi
masalahnya, rumahku cukup jauh.Karena takut aku pun minta dijemput oleh Agung,
kakak sepupuku.Karena takut Agung melapor dengan orang tuaku, terpaksa aku
harus mentraktirnya makan es krim di Macdonalds.Huft, sepuluh ribu telah
melayang, tapi tak apalah demi menjaga perbuatanku ini.
“Dari mana, kok baru
pulang?” tanya mamaku sesampainya aku di rumah.
“Dari Pantai Losari
same teman-teman” kataku.
Capek tapi senang.Langsung saja aku rindu dengan
temantemanku.Kulihat kembali foto-fotoku bersama mereka.Tak terasa aku pun
terlelap dan bermimpi tentang kejadian yang telah aku alami tadi.Keesokan
harinya, nyaris saja aku terlambat.Untung saja Om Tiro, supir antar jemput
sekolahku sabar menungguku.Dengan santainya aku berjalan menuju kelas.Tak sabar
rasanya aku ingin memamerkan foto-fotoku kemarin dengan tman-teman yang tak
sempat pergi.Tapi, tak sampai niatku itu terwujud aku pun melihat beberapa muka
temanku yang masam.
“Ada apa nih, tumben
gak ceria?” tanyaku pada Azizah.
“kita semua dipanggil ke
ruang kepala sekolah, kita semua takut!” Kata Azizah yang sedikit lagi mitikkan
air matanya.Setelah mendengar Azizah berkata, aku merasa Down.Bagaimana tidak, bolos sampai keluar area sekolah bukanlah
perkara yang gampang.
“Sudahlah
Azizah, kan kita sudah pernah di panggil ke ruang kepala sekolah, amasa takut
sih” kata Farhan menenangkan.
“ Tapi, kita ini sudah
bolos sampai keluar area sekolah, akau takut Far nanti orang tua kita dipanggil
kesekolah” Kata Azizah yang sudah tak dapat menahan air matanya.
“Tenang kok, ada Evha,
dia kan cucunya kepala sekolah, aku rasa mungkin dia bisa membujuk bu kepsek”
kata Ari lagi.
“Tapi Ri, aku rasa ini
bukanlah hal yang gampang, bolos sampai keluar area sekolah pada saat mata
pelajaran bukanlah perkara yang gampang” kataku putus asa.
Lonceng sudah berbunyi.Saatnya kami menuju ke ruang
kepala sekolah.Sesampainya didepan pintu ruang kepala sekolah, taka da yang
ingin masuk duluan.Kami semua takut.Tapi, semakin lama kami berdiri di sini
maka mungkin kepala sekolah aka semakin marah karena kami telah melanggar waktu
yang ditentukan olehnya.Karena semua teman menunjukku untuk masuk duluan,
akhiranya pasrah sajalah aku. Kami semua di suruh berdiri di depan meja sang
kepala sekolah.
“Kemarin, dari mana
kalian semua?” Kata Kepsek.
“Kami dari Pantai
Losari bu” kata Farhan.
“kenapa kalian kesana,
bukannya itu adalah hal yang melanggar aturan sekolah, pada saat mata pelajaran
lagi!” kata bu kepsek meluncak.
“karena, guru-guru juga
sedang meeting bu dan kami juga bosan kami memutuskan untuk pergi bu” kata
Farhan lagi.
“Kalian ini betul-btul, kalian
tau sudah dari dulu kalian memang selalu bolos, entah hukuman apalagi yang bisa
ibu berikan agar kalian tidak bolos lagi.Mungkin dengan memanggil orang tua
kalian dan juga memberi kalian surat peringatan kalian akan sadar dan tidak
akan mengulangi prbuatan kalian lagi” ancam kepsek.
“Jangan Ummi, tak
kasihan kah anda melihatku dimarahi oleh mamiku, ku rasa engkau adalah keluarga
yang bisa mengerti aku ummi” kataku memohon
“Tapi perbuatanmu sudah
kelewatan nak, aku tidak ingin kalian akan begini terus, bisa-bisa mangkura V
akan mendapat teguran dari pimpinan”
“Tapi Ummi, kemarin
kami bolos juga pada saat pelajaran sedang tidak berlangsung Ummi, Kami mohon
Ummi, jangan panggil orang tua kami” kataku menangis.Tak terasa aku teringat
dengan orang tuaku di rumah.
“Tapi, apakah ada
peraturan yang mengatakan apabila mata pelajaran kosong boleh bolos, begitu?
Apakah kalian tidak berpikir kalau sangat besar konsekuensi yang saya tanggung
kalau terjadi apa-apa sama kalian” kata kepsek marah.
“Kami semua minta maaf
bu” kata Farhan memelas.
“Dari dulu kalian
selalu bermasalah, meskipun hukuman selalu saya berikan kalian masih tetap saja
tak jera. Apa yang kalian minta, hah?”.Kami semua tak dapat berkutik
lagi.Memang perbuatan kami ini sangatlah kelewat batas.Bayangkan saja, taka da
seorang siswa pun yang pernah melakukan hal seperti ini.
“Silahkan tulis nomor
telepon orang tua kalian disini”kata bu kepsek menyerahkan kertas kosong dan
sebuah pulpen.
“Bu, kami mohon bu
tolong bu tolong sekali jangan panggil orang tua kami.” Kata Azizah terisak
dengan kerasnya.
“Maaf, ibu sudah tidak
bisa menangani kalian ini, biarlah Pak Romi yang menangani kalian” kata bu
kepsek menyerah.Kemudian bu kepsek mengambil telepon genggamnya dan menelpon
Pak Romi.Akhirnya ada sedikit kelegaan di hatiku dan di hati teman-temanku,
tapi meskipun demikian tetap saja kami dihadapkan dengan guru paling killer dan
kejam di sekolah.Sesaat Pak Romi pun datang dan mulai berdiskusi dengan Bu
kepsek.
Setelah berpikir
sejenak dan memilah-milah mana hukuman yang cocok untuk kami, kepsek dan Pak Romi pun
memutuskan untuk menjemur kami sampai jam sepuluh. Awalnya kami di jemur hanya
sepuluh orang rupanya sebelas orang temanku juga menyusul untuk di jemur sampai
jam sepuluh juga, hanya empat belas orang yang tidak memperdulikan kami same
sekali.Tapi, jangan salah dulu, ini bukanlah akhir dari rutinitas
kami.Rutinitas kami tersebut berlanjut sampai aku kelas V, karena kelas V
adalah waktu terakhir aku bersekolah di SD Mangkura khususnya Mangkura V.Ini
merupakan pengalaman yang tidak bisa aku lupakan. Pengalaman yang sampai
sekarang tak ada yang bisa menggantikannya sebagai pengalaman terhebat. Aku
merasa seperti orang yang paling hebat dan beruntung.Punya dua puluh satu
sahabat yang sangat menyayangiku.Tapi, entahlah sampai kapan aku bisa merasakan
kehangatan dan kebahagiaan seperti ini.
*
Hidup memang tak selamanya indah.Kadang sedih kadang tawa.Semuanya
beradu dalam lika-liku kehidupan ini.Tak semua kenangan dapat terulang
kembali.Pepatah mengatakan kalau semakin indah kenangan yang kita punya maka
semakin sulit untuk dapat terulang. Tapi, meskipun kenangan ini tak dapat
terulang, aku yakin bahwa masih ada peristiwa yang lebih indah dan akan menjadi
kenangan yang lebih indah daripada apapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar